Hutan ku Sayang, Hutan ku Malang

ilustrasi-kebakaran-hutan

Kebakaran Hutan. / Ilustrator : Jerry/KS

PALEMBANG KS – “Mengapa tanahku rawan Ini, bukit-bukit telanjang berdiri. Pohon dan rumput enggan bersemi kembali. Burung-burung pun malu bernyanyi. Ku ingin bukitku hijau kembali. Semenung pun tak sabar menanti, doa kan ku ucapkan hari demi hari”

Petikan bait lagu yang di populerkan oleh Gombloh tersebut mengalun pelan dari nada dering handphone milik seorang pria yang ditaksir berumur sekitar 31 tahun, Jumat (28/6/2013) pagi di halte Trans Musi yang ada di Jalan Ahmad Yani, Palembang.

Pagi itu, kabut tebal menyelimuti Palembang, Jumat (28/6/2013) pagi. Firman EH (31), warga Jalan KH Balqi Banten, Lr Masa Jaya, Plaju, Palembang ini, sesekali melirik jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB.

Sebuah masker tipis, menutupi wajahnya. “Ya, lagi di jalan. Mungkin terlambat, tebal nian asapnya,” keluh Firman dengan sedikit gusar kepada lawan bicaranya di ujung telphonenya.

Dibincangi Kabar Sumatera, bapak satu orang anak ini mengaku harus menggunakan masker untuk melindungi pernafasannya dari partikel debu bercampur asap yang sudah mulai menggelayuti langit Palembang. “Biasanya tidak seperti ini, kabutnya. Mungkin karena kebakaran hutan, tetapi aku baca koran, katanya Sumsel masih aman dari kebakaran hutan,” ucap Firman.

Ucapan karyawan swasta di kawasan Jalan Kol H Barlian ini, cukup masuk akal. Kabut asap, sejak dua hari terakhir sudah menggelayuti Palembang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, sudah menetapkan kota empek-empek ini dalam kondisi waspada. Sebab, menurut Kepala Dinkes Kota Palembang, Gema Asiani, sudah terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit inpeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

ISPA menurut Gema, disebabkan kabut asap dari proses pembakaran yang membawa beberapa zat polutan seperti partikel dan gas. Polutan ini berpotensi menimbulkan fibrosis (kekakuan jaringan paru), pmneumoni, sesak nafas, alergi, bahkan kanker.

“Masyarakat kita himbau, untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Penderita ISPA, sudah meningkat. Sepanjang tahun ini, sudah ada 17.417 kasus ISPA,”jelas Gema ketika dibincangi, Jumat (28/6/2013).

Namun menurut Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel, Sigit Wibowo, kondisinya belum mengkuatirkan. Saat ini sebutnya, belum ada kabut asap di Sumsel yang disebabkan kebakaran hutan atau lahan.

Titik api  yang menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan menurutnya, hasil pantauan Dishut pada 22 Juni lalu hanya ada 17 titik. Itu menurutnya, masih normal. “Sumsel masih aman, yang mengkuatirkan itu di Riau. Yang mengkuatirkan itu, di September. Karena di bulan tersebut, biasanya puncaknya musim kemarau sehingga bakal banyak bermunculan titik api,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin ketika dibincangi usai peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Ra’iyah, Jumat (28/6/2013)  di DPRD Sumsel.

Menurut Alex, kondisi Sumsel masih aman. Walau pun begitu, Sumsel sudah meningkatkan kewaspadaanya. “Akhir Agustus-September, itu puncak-puncaknya kemarau. Manggala Agni sudah disiagakan, satelit juga terus melacak titik panas,” ungkapnya.

Diperhatikan Sesaat

Kewaspadaan yang ditunjukkan pemprov, patut diapresiasi. Dalam satu bulan terakhir, hutan begitu istimewa diperhatikan karena kekuatiran bakal terjadinya kebakaran hutan yang bisa mengakibatkan kabut asap.

Setelah itu, hutan dianggap angin lalu. Pembalakan liar, dibiarkan. Luas hutan di Sumsel pun terus tergerus.  Namun menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel, dari luas hutan 3,7 juta hektar itu kini tinggal 800 hektar saja hutan dalam kondisi baik.  Walhi mencatat penyumbang terbesar kerusakan hutan Sumsel, akibat aktivitas industri, pertambangan, perkebunan, pertambakan dan hutan tanaman industri (HTI), pembangunan infrastruktur (pelabuhan dan rel kereta api), serta aktivitas penebangan hutan secara melawan hukum (Ilegal).

Kepala Divisi Lingkungan Hidup Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko menyebut, kondisi hutan di Sumsel justru sangat kritis. Dari 3,8 juta hektar luas hutan di Sumsel,  yang dalam kondisi baik tidak sampai setengahnya. “Hanya 800 hektar saja yang baik. Setiap tahun Sumsel kehilangan 100 ribu hektar pohon,” tukasnya.

 

Teks   : Dicky Wahyudi

Editor : Imron Supriadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *