Usaha Gerabah Terbentur Pasar

gerbah

Medianto (25), pengrajin gerabah asal Desa Tegal Rejo Jalan Wiroguno, RT 10A Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim. / Foto : Siswanto/KS

MUARAENIM  KS – Usaha pembuatan gerabah hias seperti souvenir, pas bunga, guci, piring hias, dan piring kaligrafi menjadi sumber mata pencarian warga yang bemukim di Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim. Sebain produses gerabah masih terbentur soal pasar.

Beberapa pembuat usaha gerabah kepada Harian Umum Kabar Sumatera bertutur, selama ini mereka memasarkan hasil kerajinannya sebatas wilayah Tanjung Enim dan sekitarnya. Kurang tenaga yang terampil ditambah persoalan pasar menjadi kendala utama bagi mereka.

Medianto (25), pengrajin gerabah asal Desa Tegal Rejo Jalan Wiroguno, RT 10A Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim menyampaikan, pemasaran kerajinan gerabah yang ia geluti masih sebatas di wilayah Tanjung Enim dan sekitarnya. Ia belum berani memasarkannya ke luar daerah, karena tenaga kerja terampil yang dimilikinya masih terbatas. Makanya, Medianto belum sanggup memenuhi permintaan dari luar daerah.

Kita belum sanggup memenuhi permintaan dari luar,” cetus Medianto.

Profesi pembuatan kerajinan gerabah, lanjutnya, telah digeluti selama tujuh tahun lalu. Dengan berbekal otodidak yang diwariskan sang kakaknya, Medianto terus mengasah kemampuannya mengolah  gumpalan tanah liat menjadi berbagai barang hiasan mulai dari souvenir, pas bunga, guci, piring hias, piring kaligrafi, dan lain sebaginya.

Satu hari medianto pun mengikuti  pelatihan yang diadakan PT Bukit Asam Persero Tbk Tanjung Enim dalam pembuatan kerajinan gerabah pada tahun 2000 lalu. Habis itu, PT BA memberikan dana hibah sebesar Rp 5 juta sebagai mitra binaan PT BA.

Dana sebanyak itu dimanfaatkan Medianto guna membuka usaha pembuatan gerabah. Pada 2003, PT BA memberikan pinjaman sebentuk lunak sebesar Rp 15 juta. Uang ini dipakai Medianto untuk mendirikan tempat berusaha, dan membeli peralatan.

“Alhamduilillah, aku biso mengembangkan usaha kerajinan ini,” ujarnya.

Adapun bahan pembuatan gerabah ini, kata Medianto, memakai tanah liat berjenis boukle atau tanah tambang serta tanah liat merah. Bahan tanah ini bisa diambil langsung di kawasan tambang PT BA gratis.

Untuk bahan bakar untuk membakar gerabah berupa kayu bakar yang dibeli dari warga. Lamanya proses pembuatan gerabah hingga siap jual satu minggu. Harganya bervariasi sesuai ukuran besar kecil gerabah. Untuk jenis souvenir harganya berkisar Rp 1.000-Rp 1.500 per buah. Sedangkan jenis guci dan sebagainya berkisar Rp 36.000 – Rp 800.000 per buah.

“Kito berterimo kasih samo PTBA karno bahan tanah liat biso kito ambil dari tambang dengan gratis. Kalo hargo gerabah yang kito tawarkan beragam sesuai dengan jenis dan ukurannyo,”  Medianto menyebutkan.

 

TEKS:SISWANTO

EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *