Popularitas Tentukan Cost Politik

Kursi-Wakil-Rakyat

Foto : INT

PALEMBANG KS – Modal besar, harus sudah mulai dikumpulkan oleh setiap calon anggota legislatif (caleg) agar bisa bersaing memperebutkan empuknya kursi wakil rakyat di DPRD. Nilainya, tergantung populeritas dan kursi dewan mana yang bakal direbut.

Setiap caleg menurut pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Joko Siswanto, pasti harus mengeluarkan dana untuk mencalonkan diri. Besar dan kecilnya modal yang harus dikeluarkan oleh setiap caleg tersebut kata Joko, tidak bisa disamakan antara satu caleg dengan caleg lainnya.

“Itu tidak bisa dipastikan, kalau secara nasional untuk menjadi wakil rakyat di DPR RI setidaknya butuh dana antara Rp1 miliar sampai Rp3 miliar. Semakin kebawah, semakin kecil dana yang harus dikeluarkan,” kata Joko saat dihubungi, Kamis (27/6/2013) malam.

Besarnya dana yang harus dikeluarkan itu kata Joko, juga sangat dipengaruhi oleh populeritas seorang caleg. Semakin populer caleg itu, maka semakin kecil dana yang harus ia keluarkan.

Sementara untuk caleg yang baru pertama kali mencalonan diri, kurang populer, bukan tokoh publik maka dana besar harus ia siapkan. “Dana itu kan harus mereka siapkan untuk sosialisasi dan lainnya, misalnya ia harus menghitung untuk satu kursi dewan berapa suara yang dibutuhkan dan berapa minimal suara yang harus direbut. Dana itulah, yang akan di gelontorkan agar dapat suara sesuai dengan target diinginkan,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, maka masyarakat jangan berharap citra dewan mendatang juga bakal bersih. Sebab setiap biaya yang dikeluarkan tentu sebut Joko, akan berusaha untuk dikembalikan oleh caleg tersebut saat terpilih.

“Bukan rahasia umum lagi, kalau caleg terpilih akan berusaha mengembalikan dana yang sudah dikeluarkannya. Caranya ya dengan memeras eksekutif, agar mendapatkan proyek tertentu,” ungkapnya.

Pendapat tak jauh berbeda disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas IBA Palembang, Tarech Rasyid. Saat dibincangi beberapa waktu lalu Tarech menyebut, setiap caleg pasti akan menggelontorkan dana besar untuk memperebutkan kursi dewan.

“Besarnya ongkos politik yang mereka keluarkan itu, bukannya gratis. Itu tentu bakal coba dikembalikan mereka saat terpilih nanti. Kemungkinan terjadinya korupsi  justru semakin besar, sebab biaya politik mereka lebih besar dibandingkan gaji yang akan diterima,” ungkapnya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategi (Puskaptis), Husin Yazid menyebut, elektablitas seseorang akan mempengaruhi keterpilihan seseorang.

Sehingga semakin dikenal seseorang, kemungkinan ia akan dipilih akan semakin besar. “Ini berlaku untuk semua calon, baik calon kepala daerah maupun calon anggota legislatif (caleg). Untuk mendongkrak populeritas atau elektabilitas ini, banyak cara misalnya mensosialisasikan diri,” ujarnya.

Sayangnya sosialisasi yang dilakukan oleh calon kepala daerah maupun caleg, masih konvensional yakni mengandalkan baleho, spanduk dan iklan. Padahal sambungnya, kemampuan mendekatkan diri kepada konstituen secara langsung justru lebih efektif walaupun harus mengeluarkan waktu dan tenaga lebih banyak.

“Harusnya sosialisasi itu, sudah dilakukan jauh-jauh hari. Semakin bisa mendekatkan diri dengan konstituen, maka semakin besar peluang untuk terpilih,” tukasnya.

Teks   : Dicky Wahyudi

Editor : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *