Pemkot Pagaralam Minta Hentikan Pembakaran

pembakaran-hutan

Foto : INT

PAGARALAM KS – Upaya menjaga kelestarian hutan lindung agar selalu terhindar dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Walikota Pagaralam menginstruksikan kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan, maupun semua lurah dan kacamatan untuk siaga terhadap kebakaran hutan terutama upaya penghentian pembakaran lahan. Demikian dikatakan Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati MKes, Jumat (28/06/2013) kemarin.

Menurutnya, dengan tingginya angka kebakaran hutan di sejumlah daerah di Indonesia, membuat pihaknya mesti meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah hutan yang ada. Pagaralam memiliki sekitar 24.000 hektare hutan lindung, tentunya cukup rawan terjadi kebakaran mengingat kondisi yang ada sebagian besar berbatasan dengan pemukiman dan lahan warga.

“Sejauh ini kita hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan. Sebab itu, mengingat  saat ini memasuki musim kemarau perlu diwaspadai dampak-dampak yang bisa terjadi  kebakaran hutan,” terangnya.  Lebih jauh ia menagatakan, ada puluhan titik api (hotspot) di Kecamatan Dempo Selatan dan Dempo Tengah.

“Sesuai dengan  hasil pemantauan terdapat sekitar puluhan titik api (hotspot), diantaranya ada lima titik api di Kelurahan Atungbungsu dan enam titik nya lagi di  Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan,” jelasnya. Mesti demikian, kata dia, perlu ditingkatkan pengawasan terhadap aksi pembakaran lahan untuk perluasan lahan perkebunan.

“Diminta kepada warga untuk menghentikan upaya perluasan lahan kebun dengan cara membakar lahan, karena akan berdampak pada kerusakan ekosistem yang ada berikut membuat kabut asap,” sebutnya.  Selain itu, kata Ida, ada sejumlah daerah yang paling rawan kebakaran hutan seperti di Dempo Selatan, Dempo Tengah dan kawasan hutan lindung Gunung Dempo.

“Masalah penanganan kebakaran hutan sudah dilakukan dengan menyebar petugas pemantau hutan termasuk meningkatkan penghentikan upaya memperluas areal perkebunan dengan cara membakar,” kata Ida.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagaralam Herawadi S.Sos melalui Kabid Penanggulangan Bencana,  Yusman Sohar mengatakan, memang ada puluhan titik api di Pagaralam seperti empat titik di Kelurahan Kacediwe, dan lima titik di Kelurahan Pelangkenidai, Kecamatan Dempo Tengah.

“Ada puluhan titik api (hotspot) telah muncul di kawasan hutan perbatasan Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan,” terangnya. Sejumlah titik api tersebut, kata dia, mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah tersebut.

“Sementara titik api (hotspot) tahun 2012 lalu juga melanda kawasan Kecamatan Kota Agung, dan Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat.  Sedangkan kedua daerah tersebut berbatasan dengan Kota Pagaralam,” ungkapnya. Ia melanjutkan, di beberapa daerah itu ada perbatasan yang terdapat 14 titik api dan paling banyak ditemukan di kawasan hutan  di Kecamatan Dempo Selatan dan Kecamatan Pajarbulan.

“Kebakaran lahan dan hutan tersebut sebagai bentuk terjadinya musim kemarau yang melanda wilayah Sumsel, dengan angin yang bersifat kering,” kata dia.

Lebih jauh ia mengatakan, kalau terjadi kebakaran hutan akan meluas, serta terjadinya pertumbuhan titik api (hotspot) yang cukup tinggi dengan angin yang bersifat kering dan suhu udara mencapai 35 derajat celcius terutama untuk kawasan Kota Pagaralam. Sebab itu, guna menghadapi kemarau panjang nantinya akan meningkatkan pengawasan puluhan titik hotspot di Kecamatan Dempo Selatan dan Dempo Tengah.

“Di wilayah Kota Pagaralam ada lima daerah paling rawan kebakaran hutan atau kawasan hotspot, dan semuanya berada di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Lahat yaitu Kecamatan Dempo Selatan, dan beberapa titik di Kecamatan Dempo Tengah,”  jelasnya.

Adapun  titik api yang ada diantaranya, yaitu Lematang, Selangis, Dusun Lubuk Buntak, Dusun Atung Bungsu dan Dusun Muaratenang, karena daerah ini masih cukup banyak terdapat hutan belukar mencapai ratusan hektare.

“Kawasan hutan hotspot tersebut merupakan lahan tidur, sementara sebelumnya merupakan perkebunan kopi dan ladang. Karena  sudah tidak digarap lagi, maka ditumbuhi rumput ilalang dan pohon kayu kecil sehingga kembali menjadi belukar,” jelasnya seraya menambahkan pada tahun 2008 lalu pernah terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan ratusan hektare lahan milik warga terbakar, seperti perkebunan karet, kopi dan jati, paling banyak di Kelurahan Atungbungsu, Kecamata Dempo Selatan.

 

Teks: Antoni Stefen

Editor: Sarono P Sasmito




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *