Awas, Makanan Berbahaya Beredar

Ilustrasi-Makanan-Mengandung-Berbahaya

Ilustrasi Makanan Mengandung Berbahaya. / Foto : INT

PALEMBANG KS – Menjelang bulan suci ramadhan, masyarakat Kota Palembang harus lebih waspada terhadap makanan dan minuman yang beredar di pasaran. Sebab bukan tidak mungkin, makanan dan minuman itu mengandung zat pewarna dan pengawet yang membahayakan.

Karenanya menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, Gema Asiani, dinkes akan memantau peredaran makanan dan minuman yang di jual saat ramadhan mendatang terutama yang ada di pasar bedug.

“Sama seperti tahun lalu, tahun ini ada 19 pasar bedug yang akan kita pantau untuk diambil sample makanan dan minumannya. Kalau tahun lalu, pengambilan sampel kita lakukan H- 7 ramadhan. Tahun ini,  masih belum kita tentukan kapan dilakukan,” jelas Gema saat dibincangi, Kamis (27/6).

Yang pasti kata Gema, pengambilan sampel makanan dan minuman itu akan dilakukan kepada pedagang yang berpotensi menjual makanan yang bisa dicampuri zat perwarna tekstil (rodamin) dan formalin seperti tahu, mie, bakso dan empek-empek. “Biasanya kita bisa tahu makanan yang mengandung zat berbahaya, itu terlihat dari warnanya dan kontur makanan,”sebut dia.

Dinkes terangnya, akan menurunkan tim yang akan memantau makanan dan minuman yang dijual pedagang tersebut. Tahun lalu, Dinkes sebutnya menemukan beberapa pedagang yang menjual makanan bercampur rodamin. “Kami tak bisa memberikan sanksi kepada pedagang, tapi hanya akan memberikan pembinaan kepada mereka,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Palembang, Irwan Destra mengatakan, seperti sebelumnya selama bulan suci ramadhan akan tumbuh beberapa pasar bedug. Namun pasar bedug itu menurutnya, bukanlah pemkot yang mengelolanya.

Pemkot kata Irwan, hanya memberikan izin kepada pengelola pasar bedug untuk memanfaatkan lahan milik pemkot seperti di bawah Jembatan Ampera atau kawasan Monpera.

“Tahun ini, sudah ada pengelola pasar bedug yang mengajukan izin ke kita. Mereka awalnya hendak membuka pasar bedug disamping Monpera, namun kita tidak izinkan karena menggangu estetika kota,” bebernya.

“Mereka kita izin kan menggunakan lahan di bawah Jembatan Ampera, dengan retribusi Rp5 juta selama ramadhan. Pasar bedug itu, direncanakan bisa menampung 50 pedagang namun baru 17 pedagang yang sudah mendaftar,” tukasnya.

Teks   : Alam Trie Putra

Editor : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *