Memanusiakan Kembali Palembang

PALEMBANG, KS-Belajar lah dari alam, pepatah bijak ini tak lagi asing bagi sebagian besar masyarakat. Sayang, pelajaran penting tersebut masih sering mengalah dengan derap laju pertumbuhan kota.

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang telah mencanangkan program Bersih, Hijau dan Biru, atau Clean, Green and Blue  untuk menyulap Palembang menjadi lebih bersahabat. Namun fakta yang ada menunjukkan, justru  kualitas udara Palembang kian mengkuatirkan.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang mencacat, dari 16 titik yang dipantau ada empat titik sudah melampaui baku mutu. Sehingga udara yang ada di daerah tersebut, sudah membahayakan kesehatan masyarakat.

Empat titik yang dimaksud BLH adalah Bundaran Air Mancur (BAM), Simpang Empat Charitas, Simpang Empat Patal dan Simpang Empat Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Ke empat kawasan tersebut, selama ini merupakan kawasan padat kendaraan.

“Pesatnya pertumbuhan kendaraan di Palembang, jadi salah satu penyebab memburuknya kualitas udara. Di waktu-waktu tertentu antara pukul 12.00 WIB-15.00 WIB, suhu di Palembang bisa mencapai 39-40 derajat celcius,” kata Kepala BLH Kota Palembang, Agoeng Noegroho, kemarin.

Kendaraan di kota empek-empek ini sebutnya, rata-rata mengunakan standar mesin european emission standars (euro) II. Maksudnya, bagi kendaraan dengan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar memiliki kadar sulfur 3.500 parts per million (ppm). Jika kendaraan sudah menggunakan euro III atau IV,  kadar sulfur nya bisa diturunkan menjadi 2.500 ppm.

UNESCO juga mencatat, 47 persen pencemaran udara di Palembang, berasal dari kendaraan bermotor. Hasil riset lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menunjukkan, nitrogen dioksida (No2) dan PM10 di Palembang cukup kritis. Tingkat kedua parameter ini telah melampaui standar yang telah ditetapkan UNESCO.

Agar kota lebih nyaman di huni,  Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang sebut Agoeng sudah menerapkan beberapa kebijakan diantaranya menekan tingkat emisi gas buang kendaraan. Caranya dengan menggelar uji emisi kendaraan, baik pribadi maupun plat merah secara rutin.

Selain itu, pengukuran udara dilakukan empat kali dalam satu tahun untuk mengukur baku mutu udara seperti yang disyaratkan  Peraturan Gubernur (Pergub) dan Peraturan Pemerintah (PP) No 41 tahun 1999.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang, Sudirman Tegoeh menambahkan ruang terbuka hijau (RTH) di Palembang, saat ini sudah mencapai 18 persen. “Pemkot sudah berusaha untuk mewujudkan RTH 30 persen, tetapi terkendala lahan,”katanya memberikan alasan.

Untuk menambah RTH di Palembang, Kepala Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan, dan Pemakaman (DPJPP) Kota Palembang, Andi Wijaya Busro menyebut pihaknya terus berusaha menambah jumlah taman kota.

“Awal tahun depan, taman kota bertambah. Taman kota di Jalan POM IX, sudah rampung 90 persen. Taman itu, sudah dilengkapi sarana bermain untuk anak-anak,” jelas Andi.

Taman tersebut mempunyai luas 3000 meter persegi, yang terbagi di tiga titik yakni di Blok E depan rumah Wakil Walikota Palembang Romi Herton. Kemudian Blok B dan C. “Di sana, juga ada lapangan badminton, basket, tempat bermain anak-anak, serta refleksi batu termasuk fasilitas wifi. Pembangunannya menelan dana Rp3,7 miliar, dari APBD Kota Palembang,” tukasnya.

Penulis          : Alam Trie Saputera

Editor              : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *