Cegah Dini Kebakaran Hutan

OLEH SARONO P SASMITO

KEBAKARAN  hutan dan lahan di Provinsi Riau beberapa waktu lalu sempat dikeluhkan oleh warga Negara jiran yakni Malaysia dan Singapura. Sebab saat itu  banyak ditemukan titik api  sehingga menimbulkan polusi asap.

Kita yang berada di Sumatera  Selatan ini, tahun lalu juga sempat dibuat repot dengan banyaknya ditemukan “Hot spot” di berbagai tempat di wilayah ini. Kondisi itu jelas mengakibatkan banyaknya populasi asap yang ditimbulkannya. Pergerakan asap juga akhirnya bukan hanya menyebar di Sumatera Selatan tetapi juga di daerah-daerah lainnya di provinsi tetangga.

Syukur Alhamdulillah tahun ini, fenomena kemarau dan kekeringan belum benar-benar mencekik kita. Meski cuaca sudah panas namun satu dua kali masih turun hujan juga meski dengan frekuensi dan intensitas yang terhitung jarang.

Jadi meskipun kondisi yang terjadi saat ini derajat “psi”  di Riau menurun di bawah 10 dan ‘polution standar indeks’ (psi), padahal saat kondisi puncaknya di atas 300 psi, di Singapura capai 371 psi dan sekarang 56 psi. Kita bersyukur terjadinya penurunan itu.

Sebab dari laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif dan Duta Besar RI di Singapura, kondisinya  semakin baik. Meski demikian  kita mengharapkan agar pemerintah tetap memutuskan untuk berjaga-jaga dengan menyiagakan satgas hingga Agustus mendatang. Sebab bukan tidak mungkin  bila ada kondisi cuaca yang dapat memicu kebakaran hutan dan ladang. Hal itu jelas bukan hanya bisa terjadi di Riau tetapi juga di Sumatera Selatan.

Oleh karena itu keadaan yang sudah lebih baik ini sebaiknya tetap bisa dipelihara. Sementara siapkan satgas yang dipimpin BNPB yang sifatnya secara regional. Pemerintah juga diharapkan terus memantau semua kondisi hutan dan lahan di kawasan kita. Kemudian kalau terjadi kebakaran lahan harus diupayakan pemadaman secara intens.

Pemerintah juga berjanji dalam empat hingga lima hari ke depan, sejumlah helikopter besar yang mampu mengangkut 4.000 liter air akan datang untuk memperkuat satgas pemadaman. Helikopter itu, atas permintaan BNPB akan disewa dan disiagakan hingga Agustus mendatang.

Kemudian satgas pemadaman kebakaran hutan dan lahan nantinya akan dibentuk secara permanen. sehingga dapat langsung mengambil langkah pemadaman bila terjadi kebakaran lahan dan hutan di wilayah provinsi bersangkutan.

Kita juga mengharapkan, selain dilakukan upaya pemadaman,  adanya penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan penyidik dari kepolisian  dapat melakukan investigasi untuk mengetahui apakah ada pihak-pihak yang lalai dan sengaja membakar lahan dan mengakibatkan kebakaran hutan serta lahan. Jika hal itu terjadi, maka pihak kepolisian dan PPNS dari Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup  harus melakukan investigasi. Langkah seperti itu harus dilaksanakan  dengan terbuka  sehingga bisa dipublikasikan siapa saja. Mereka yang melakukan pelanggaran itu harus berhadapan dengan hukum. Moga langkah-langkah tersebut dapat dijadikan solusi untuk cegah dini kebakaran hutan sebelum meluas di mana-mana. Bukankah lebih baik mencegah daripada melakukan penindakan yang ketika kebakaran hutan dan lahan itu dalam skala besar akan sangat susah dijinakkan. Moga menjadi perhatian semua pihak yang jelas sama-sama berkepentingan.

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *