Kemiskinan Dipolitisasi

HL-FOTOk

Ilst.

PALEMBANG, KS-Pemerintah tengah menyiapkan program kompensasi kenaikan atas bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Menteri Koordinator (Menko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Agung Laksono beberapa waktu lalu menyebut Kementerian Koordinator Kesra sedang merancang kompensasi yang akan diberikan kepada masyarakat atas kenaikan harga BBM subsidi, yang bakal diberlakukan Juni nanti.

“Yang pasti bukan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai),  yang pernah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Lebih kepada program yang meringankan masyarakat,”jelas Menteri Agung Laksono.

Walau belum dipastikan apa program kompensasi yang bakal diberikan, atas kenaikan harga BBM subsidi tersebut namun banyak pihak program tersebut tidak akan jauh berbeda dari BLT.

Program-program tersebut dinilai Ketua Umum Pusat Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (PP ISNU), Ali Masykur Musa saat Diskusi Panel Ahli ISNU II di Kantor PBNU, Jakarta, beberapa waktu lalu  tak lebih dari politisisasi terhadap warga miskin.

Program itu pun dinilainya menistakan harkat kemanusian.  “Pelaksanaan  program-program variatif anti-kemiskinan seperti BLT, raskin dan Jamkesmas yang jumlahnya belasan triliun, pelaksanaannya sering menistakan harkat kemanusiaan masyarakat sebagai warga negara,” kritiknya.

Bagaimana di Sumsel ?, kemiskinan menjadi kata paling ditakuti. Karenanya hampir setiap tahun, angka kemiskinan selalu diklaim berkurang. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumsel, Yohanes H Toruan menyebut, tingkat kemiskinan Sumsel saat ini mencapai 13,78 persen atau turun 20,99 persen jika dibandingkan 2006 lalu.

“Kita optimis, angka kemiskinan di Sumsel dapat terus diturunkan menjadi 6 persen sampai 8 persen pada 2018, walaupun saat ini angka kemiskinan kita masih diatas rata-rata nasional yang 11,96 persen,” kata Yohanes, beberapa waktu lalu.

Berbagai program pun ditawarkan, untuk mengatasi kemiskinan tersebut diantaranya berobat gratis dan sekolah gratis.  Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, Fenti Aprina beberapa waktu lalu meyakini program berobat gratis bisa mengurangi angka kemiskinan.

Namun bagaimana korelasinya, Fenti tidak menyebut. “Pelayanan kesehatan itu, kegiatan yang sangat komplek. Mulai dari masyarakat terlayani, juga dari sisi tenaga pelayanannya, serta masih banyak hal lagi menyangkut akan hal tersebut. Ini bisa menekan akan angka kemiskinan. Tahun ini,  angka kemiskinan menurun,”klaimnya.

Di pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sumsel,  orang miskin pun menjadi  “alat” untuk mencari simpati. Berbagai cara dilakukan, mulai dari bagi-bagi sembako, bedah rumah, bantuan berobat sampai dengan blusukan.

Teks    : Dicky Wahyudi

Editor : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *