Pasar Tradisional Kian Lesu

pasar-tradisional

PALEMBANG,KS-Nasib pasar tradisional di Palembang, kian memprihatinkan. Nyaris kalah bersaing dengan serbuan pasar modern yang berdiri menjamur, kondisi pasar tradisional pun banyak sudah tak layak.

Pasar tradisional di Kota Palembang menurut Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya, Syaifuddin Azhar, banyak yang tak layak lagi dan perlu di rehabilitasi.  Pasar di metropolis menurutnya, sudah tua dan tidak memadai lagi.

Menurutnya, ada sekitar 31 pasar tradisional atau hampir seluruh pasar tradisional di Palembang masuk dalam katagori tersebut.  “Kita sudah berusaha mencari pihak ketiga, yang berminat menjadi pengembang yang mau membangun gedung pasar. Namun semua itu, terkendala investor,” jelas Direktur PD Pasar Jaya, Syaifuddin Azhar ketika dibincangi, beberapa waktu lalu.

Menurut Syaifuddin, selain banyak pasar yang tak layak ada juga pasar di Kota Palembang yang dikatagorikan kondisi saluran pembuangannya bermasalah. “Ada pasar, yang kondisi bangunannya sudah tua bahkan dibangun sejak zaman Belanda.  Kondisinya, atap pasar itu sudah rusak dan saluran airnya sering bermasalah,” sebutnya.

Selain itu sambungnya, sejumlah pasar tradisional yang tata ruang wilayahnya dekat dengan pemukiman warga. Sehingga PD Pasar kesulitan, untuk melakukan perluasan seperti di Pasar Sekip Ujung.

Kondisi inilah jelas Syaifuddin, membuat pasar menjadi sembrawut karena tidak bisa lagi menampung jumlah pedagang yang terus bertambah. Tak hanya sembrawut, hal itu juga sering membuat terjadinya kemacetan lalu lintas.

“Luas pasar tradisional kita, banyak yang tidak bisa lagi menampung pedagang. Akibatnya pedagang sering memilih berdagang di badan jalan, ini belum ditambah dengan areal parkir yang mereka gunakan sering memakan badan jalan,” ungkapnya.

Sebelumnya Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra mengatakan, peremajaan pasar diharapkan bisa dilakukan pihak swasta dengan sistem BOT. Dengan begitu, pihak swasta diharapkan dapat membantu pemkot, dalam membangun pasar tradisional menjadi pasar tradisional modern, dengan pengelolaan dalam kurun waktu tertentu.

Dengan sistem ini, Eddy meyakini akan banyak keuntungan yang didapat baik oleh pengusaha, pedagang maupun pemkot. Pemkot sebutnya mendapat keuntungan, retribusi yang bertambah sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Selain itu, pembangunannya tidak menggunakan dana APBD.

“Sementara bagi masyarakat, akan lebih nyaman berbelanja. Pedagang mendapatkan untung, dengan semakin banyaknya warga yang berbelanja. Pengusaha atau investor juga dapat untung,” ujarnya seraya menyebut  pemkot masih kesulitan mencari investor karena investor lebih memilih berinvestasi di property atau infrastruktur.

Teks    : Alam Trie Putera

Editor : Dicky Wahyudi

Revitalisasi Terkendala Investasi

PALEMBANG,KSRencana Pemerintah Kota (pemkot) Palembang merevitalisasi pasar-pasar tradisional menjadi pasar modern, tidak berjalan karena minimnya investor yang berminat berinvestasi.

Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra menyebut, investor lebih tertarik berinvestasi di sektor perhotelan dan infrastruktur dan sektor lainnya dibandingkan menanamkan uangnya untuk mengelola dan mengembangkan pasar tradisional.

Padahal pemkot sebut Eddy, berharap kucuran rupiah dari pihak swasta untuk peremajaan pasar dengan sistem built operate transfer (BOT). Dengan begitu kata Eddy, pihak swasta diharapkan dapat membantu pemkot dalam membangun pasar tradisional menjadi pasar tradisional modern, dengan pengelolaan dalam kurun waktu tertentu.

 

“Dengan peremajaan pasar ini, banyak keuntungan yang bisa didapat. Dari sisi pendapatan, tentu pendapatan asli daerah (PAD) akan meningkat dari retribusi yang ditarik. Selain itu, pemkot juga tidak harus mengeluarkan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), dalam pembangunannya,” jelas Eddy ketika dibincangi, beberapa waktu lalu.

Sementara bagi masyarakat dan pedagang, keuntungan yang didapat dari segi pelayanan. Dengan berubahnya wajah pasar menjadi lebih modern, maka pelayanan pun akan lebih bagus karena pasar lebih bersih. Sedangkan investor, juga mendapatkan keuntungan dalam pengelolaanya.

Namun pemkot sebutnya, tidak sembarang menentukan investor di sektor ini. Ada pertimbangan, pemasukan untuk PAD. Namun sambungnya, sampai saat ini belum ada investor berminat, dalam membicarakan konsep kerjasama itu. “Sejumlah pasar, masih dalam penjajakan ke investor,” ungkapnya.

Untuk pengembangan Pasar Cinde kata Eddy,  pemkot terkendala kepemilihan lahan. Lahan di pasar itu, adalah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel dan milik pemkot. Sampai saat ini, belum ada pertemuan untuk membahas revitalisasi pasar itu.

Sementara itu Direktur Operasional Perusahaan Daerah (PD) Pasar Palembang Jaya Ahmad Syamsudin mengatakan, peremajaan pasar ini memang salah satu menjadi agenda PD Pasar.

Peremajaan itu, dilakukan untuk kemudahan masyarakat dalam berbelanja di pasar tradisional yang berkonsep modern. Namun, PD Pasar  sulit nya mencari investor. Investor cenderung menanamkan sahamnya pada bisnis hotel dan properti.

“Beberapa pasar, sudah kita rencanakan untuk di remajakan. Misalnya Pasar Lemabang, yang rencananya akan dibangun PT Utama Karya. Namun sampai sekarang, belum bisa dilakukan karena belum ada investor yang berminat,” ujarnya.

“Investor lebih tertarik bangun hotel atau properti, dibandingkan pasar karena dananya lebih cepat kembali. Belum lagi, untuk membangun atau meremajakan pasar itu, sulit memprediksi berapa dananya,” tukasnya.

Teks       : Alam Trie Putera

Editor     : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *