Waspada, Kemarau Mulai Datang

20121219cuaca--feny

Ilst Cuaca

PALEMBANG, KS-Sumatera Selatan (Sumsel) kini mulai masuk musim kemarau, namun kemarau saat ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kenten Palembang adalah musim kemarau basah.

Kondisi ini menurut Kepala BMKG Palembang, Mohammad Irdam, akan terus berlangsung mulai Agustus hingga September. Kemarau basah ini ditandai dengan curah hujan yang kecil. “Curah hujan normal tidak ekstrem yaitu berkisar pada 150 sampai dengan 200 mm per bulan. Bahkan kemarin curah hujan hanya 120 mm per bulan,” kata Irdam.

Menurut dia, tahun-tahun yang mengalami cuaca ekstrem yaitu setiap 4-5 tahun sekali. Cuaca ekstem ini dinamai El Nino, ditandai dengan naiknya suhu permukaan air laut. El Nino pernah terjadi pada tahun 1977, 1982, 1987, 1991, 1996, 2001, 2006, dan pada 2011 saat berlangsungnya SEA Games XXVI di Palembang.

Saat itu, curah hujan 0 mm per bulan alias tidak ada hujan sama sekali. Irdam menambahkan, angin kencang kemungkinan masih terjadi di musim kemarau basah. Hal ini karena angin berkurang tetapi masih di atas 36 knot. “Normalnya angin hanya 5 sampai dengan 10 knot,” ujar Irdam, seraya menyebut, angin kencang diprediksi terjadi di Musi Rawas dan Muara Enim.

Selain itu, suhu permukaan laut juga diperkirakan sedikit di atas normal dan angin yang masih berubah-ubah. Suhu permukaan laut saat ini 29 derajat celcius, normalnya 27-28 derajat celcius. Sedangkan intensitas panas mulai dari rendah hingga sedang yaitu 33-34 derajat celcius masih dalam kategori normal.

Namun kondisi ini, harus tetap di waspadai masyarakat Sumsel. Sebab menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Taufik, pada Jumat (21/6) lalu, terpantau setidaknya 30 titik api di berbagai kawasan di Sumsel. “Pantauan kita, sudah ada 30 titik api yang muncul. Sumsel sudah memasuki musim kemarau. Tapi titik api terbesar masih terjadi di Riau,” kata Taufik.

Taufik bahkan memprediksi Sumsel akan dikepung asap pada bulan Agustus dan September, bulan yang merupakan puncak titik api bermunculan. “Titik api biasanya akan berlangsung selama lima bulan,” ujarnya.

Kondisi ini bisa membuat kualitas udara di Palembang, memburuk. Kualitas udara di Sumsel sendiri, sudah kian memburuk. Di Palembang misalnya, hasil pengukuran yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang, ada empat titik yang kualitas udaranya diluar baku mutu yakni kawasan Bundaran Air Mancur (BAM), Simpang Charitas, Simpang Patal dan Simpang Empat Bandara SMB II.

“Berdasarkan hasil pengukuran di sejumlah titik, seperti Kambang Iwak, Bundaran Air Mancur, Jalan Merdeka, Simpang Charitas,kualitas udara mendekati ambang batas normal, yakni mencapai 233 PM10 (debu),” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran Kota  BLH Palembang, Novran Fadillah.

 

Teks                       : Dicky Wahyudi

Editor                    : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *