Pali dalam Catatan Wartawan

PALI-dalam-catatan

ILst Wartawan PALI

PALI | KS-Diskusi terbatas “Pali dalam Catatan Wartawan” di Gedung Pesos, Sabtu (22/6) berlangsung lancar. Puluhan wartawan dan tokoh-tokoh Pali antusias mengikuti. Beberapa isu dibahas dalam pertemuan yang digagas Pendopo Media Center (PMC) itu.

Tokoh-tokoh yang hadir, masing-masing memberikan pendapat dan catatan terkait proses pemekaran Pali itu.

H Anwar Mahakil yang menjadi tokoh sentral dalam diskusi itu mengatakan, bahwa pembentukan Kabupaten Pali didorong oleh semangat ketidakpuasan terhadap hasil pembangunan.

Infrastruktur yang kurang memadai menjadi alasannya. “Jadi, pergerakan membentuk kabupaten Pali bukan didorong adanya kepentingan elite politik atau mengejar jabatan semata. Saya tidak ada keinginan untuk mengejar jabatan atau anak saya, tidak ada. Pali diperjuangkan semata-mata agar pembangunan dapat lebih merata,” jelas Anwar yang menjadi pembicara pertama.

Justru Anwar mempertanyakan komitmen DPRD saat itu yang menolak usulan pemekaran.

Drs H Soemaryono yang mendapat giliran berikutnya justru membantah bila DPRD Muara Enim saat itu dianggap menolak. “Perlu saya luruskan, bahwa saat itu bukannya DPRD menolak, tetapi menunda. Karena saat itu persyaratan untuk memekarkan wilayah, minimal 5 kecamatan untuk menjadi kabupaten baru. Saat itu Kec Benakat yang dimasukkan dalam proposal, justru menolak bergabung. Karena itulah, setelah melalui lobi-lobi politik, akhirnya kami putuskan ditunda sampai ada pemekaran kecamatan menjadi lima,” urai Soemaryono, yang saat itu masih menjabat anggota DPRD dan menjadi Ketua Pansus Pemekaran PALI.

Hal ini pun diakui oleh Arfan, salah satu tokoh masyarakat Abab. Menurut Arfan, begitu mendengar kurangnya syarat untuk memekarkan PALI, masyarakat betung langsung membuat gerakan. Dengan dimotori LSM Abab Bersatu dan LSM Forum Masyarakat Abab dipimpin Mulyadi Asoy melakukan aksi ke Pemkab Muaraenim, menuntut pemekaran kecamatan Abab.

“Begitu Benakat batal bergabung, Kami langsung bereaksi, karena syaratnya harus lima kecamatan, maka kami meminta Abab dimekarkan. Sebab tidak ada jalan lain, kalau empat kecamatan tidak bisa, maka harus ditambah kec Abab” sambung Arfan yang juga seorang guru itu.

Devi Harianto SH, anggota DPRD Muaraenim ini juga mengakui hal tersebut. “Saat itu kami bukan menolak, melainkan menunda. Karena untuk memekarkan sebuah kabupaten itu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Dan itu tidak mudah, salah satunya minimal lima kecamatan” tambahnya.

Karena terjadi keributan di Medan, Sumatera Utara, sambung Devi, sehingga terjadilah moratorium pemekaran oleh pemerintah. “Tapi saya sendiri mempertanyakan, surat moratorium itu sendiri ada atau tidak? Sampai saat ini saya belum melihatnya,” ujarnya.

Ketua Komunitas Jurnalis Muaraenim (KJM), Joni Opus, mengungkapkan, pembentukan Pali di mulai jauh sebelum ada presidium. “Kami dari pers saat itu diminta untuk mengembangkan opini tentang Pali ini. Saya sendiri, Ardani Zuhri dan Dewi dari Transparan dan beberapa teman lain, berkeliling sampai pelosok untuk mengembangkan isu ini. Namun sekali lagi, kami tidak pernah merasa paling berjasa. Karena itu kami mengajak semua pihak yang hadir agar senantiasa jangan merasa sebagai orang paling berjasa. Pali terbentuk karena jerih payah seluruh masyarakat,” ujarnya.

Mulyadi warga Kecamatan Abab mengungkapkan, pihaknya sampai nekad melakukan aksi di Simpang Raja. Meskipun tanpa pemberitahuan kepolisian mereka melakukan aksi menghadang Bupati Muara Enim saat itu,  Kalamudin. Mereka memaksa bupati untuk menandatangani surat persetujuan pembentukan Kabupaten Pali.

Indra, salah satu jurnalis yang hadir justru memberikan pandangan berbeda. Menurut jurnalis yang berkacamata ini, Kabupaten Pali hadir karena dikehendaki penguasa langit. “Tidak dapat dipungkiri bahwa kabupaten kita ini merupakan pesan dari langit. Coba lihat saja, setelah 10 tahun diperjuangkan baru berhasil. Ketika dimasukkan kecamatan diluar ‘Kec Talang Ubi gaya lama’, justru gagal. Dan satu hal lagi,  presidiumnya pun memiliki kesamaan, satunya Anwar Mahakil, satu lagi Iskandar Anwar. Hal ini bukan kebetulan semata. Tetapi sudah dirancang di kerajaan langit,” jelas Indra.

Karena itu, Indra meminta semua pihak agar tidak mengaku sebagai tokoh paling berjasa, Kabupaten Pali terbentuk sebagai pengorbanan dan doa seluruh masyarakat, termasuk yang ada dipelosok Talang.

Diakhir acara, Hengky Yohanes Direktur PMC menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak yang membantu acara diskusi ini terselenggara.

Hengky menuturkan, hasil diskusi ini akan menjadi catatan bagi PMC untuk dirangkum menjadi sebuah buku. “Akan kita rangkum, tentu saja akan kita sempurnakan lagi datanya, dan kedepan diskusi seperti ini akan kembali kita gelar,” pungkasnya.

Teks/foto : Indra Setia Haris




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *