Efek Pembangunan Fly Over Jakabaring

maket-fly-over-jakabaring

Maket Fly Over Jakabaring

PALEMBANG, KS-Pemerintah Provinsi (pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), kini mulai membangun jembatan layang (fly over) di simpang Jakabaring, Palembang. Jembatan layang tersebut, nantinya akan menghubungkan Jalan Jalan HM Ryacudu menuju Jalan Gubernur HA Bastari, Jakabaring.

Namun efek dari pembangunan jembatan sepanjang 433 meter itu, sudah menimbulkan kemacetan. Pantauan Kabar Sumatera, Jumat (21/6), kemacetan panjang terjadi setiap harinya mulai dari Jalan Jend Ahmad Yani menuju Jembatan Ampera, atau dari Jalan HM Ryacudu menuju Jalan KH Wahid Hasyim, Jakabaring dan Plaju.

Hal ini dikarenakan, badan jalan yang menyempit akibat pengeboran di beberapa titik yang dijadikan tempat tiang atau girder fly over. Kondisi ini diperparah, dengan pelebaran jalan yang lamban diselesaikan pembangunannya.

Kondisi ini, sangat dikeluhkan pengguna jalan. Putra (23), warga Jalan KH Wahid Hasyim, Kertapati misalnya. Karyawan swasta ini mengaku, hampir setiap hari ia harus berhadapan dengan kemacetan di kawasan tersebut.

“Saya sering terlambat datang ke kantor, akibat terjebak macet disana. Yang membuat kesal, bukan hanya jam sibuk saja terjadi macet tetapi juga di jam-jam istirahat siang seperti pukul 12.00 WIB,” keluhnya ketika dibincangi, kemarin.

Untuk menghindari kemacetan di kawasan simpang Jakabaring tersebut, ia kata Putra, mau tidak mau sekarang harus berangkat lebih pagi dari rumah menuju ke tempat kerjanya.

Keluhan senada disampaikan Kurnia (21). Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di kawasan Plaju ini mengaku, kini sudah menjadi rutinitasnya terjebak kemacetan saat hendak berangkat dan pulang kuliah.“Setiap hari kak, macetnya. Bukan hanya di pagi hari tetapi juga di siang hari. Mungkin hanya malam hari, yang tidak macet,”ucapnya.

Harusnya sebut Kurnia, sebelum pembangunan fly over itu dilakukan, pemerintah lebih dahulu melebarkan jalan sehingga tidak terjadi kemacetan parah.

Pemerintah cepat tanggap, misalnya melakukan pelebaran Jalan, atau memberikan Jalan alternatif untuk melintas. “Jalan alternatif ada, jika dari arah Kertapati kita bisa melalui Jalan SH Wardoyo menuju ke bawah Jembatan Ampera lebih dahulu. Itu pun harus memutar arah, kan sama saja bohong,” imbuhnya.

Kepala Bidang (Kabid) Transportasi Jalan dan  Rel, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palemabang, Agus Supriono mengatakan harusnya sebelum fly over mulai dibangun, pelebaran jalan harus diselesaikan dahulu untuk menghindari kemacetan.

“Namun pelebaran jalan lamban dikerjakan, sehingga saat pengeboran untuk girder fly over dilakukan di bagian marka dan taman jalan terjadi penyempitan badan jalan. Inilah yang menjadi penyebab kemacetan,” jelasnya.

Menurut Agus, dalam setiap pembangunan fly over memang kemacetan itu tidak bisa dihindarkan. Namu kemacetan itu bisa diminimalisir. “Karenanya kami sudah meminta PT Wijaya Karya (Wika), sebagai kontraktor dan Dinas PU Bina Marga Sumsel untuk melakukan pelebaran jalan,” ungkapnya.

“Warga juga kita harapkan, lebih bersabar dengan kemacetan ini. Pembangunan fly over ini untuk kepentingan bersama, agar kedepan kemacetan di kawasan simpang Jakabaring bisa diurai,” tukasnya.

Sebagai informasi, fly over Simpang Jakabaring direncanakan dibangun dengan panjang 433 meter, lebar 18 meter dengan dengan jarak antar tiang 38,32 meter. Fly over ini,  ditopang oleh tujuh grinder atau tiang penyangga dengan kedalaman 35 meter.

Jalan layang ini, terdiri dari dua jalur dan empat lajur. Pangkal jembatan, berada pada belokan pertama setelah Jembatan Ampera menuju arah Plaju dan berakhir didepan Markas Polresta (Mapolresta) Palembang. Pada 2014 mendatang, fly over tersebut ditargetkan selesai dibangun.

Teks    : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *