Sumsel Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

hujan

BMKG

PALEMBANG, KS-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprakirakan wilayah provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu pada musim kemarau basah sekarang ini sebagian besar masih berpotensi diguyur hujan ringan diserta angin kencang.
“Hari ini sembilan kota diprakirakan hujan dengan intensitas ringan dengan kecepatan angin hingga 30 kilometer per jam, dua kota berpotensi hujan sedang, dan empat kota lainnya diprakirakan berawan,” kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang, Kamis.

Kesembilan kota kota yang diprakirakan berpotensi hujan dengan intensitas ringan yakni Kota Palembang, Prabumulih, Kayu Agung, Martapura, Muaradua, Baturaja, Pagaralam, Pangkalanbalai, dan Sekayu.

Kota yang diprakirakan hujan ringan itu memiliki suhu udara berkisar 23-33 derajat celcius, kelembaban udara berkisar 58-97 persen, kecepatan angin sekitar 30 kilometer per jam dengan arah angin sebagian besar menuju barat daya, kecuali Kota Sekayu, Pangkalanbalai, Muaradua, dan Pagaralam, arah anginya menuju barat.

Sedangkan dua kota yang diprakirakan berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang yakni Kota Muara Enim dan Indralaya.

Kota yang diprakirakan hujan sedang itu memiliki suhu udara berkisar 23-33 derajat celcius, kelembaban udara berkisar 57-96 persen, kecepatan angin berkisar 25 – 30 kilometer per jam dengan arah angin menuju barat daya.

Sementara empat kota lainnya yangg kondisi cuacanya diprakirakan berawan yakni Kota Lahat, Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Tebingtinggi.

Beberapa kota yang diprakirakan berawan memiliki suhu udara berkisar 24-34 derajat celcius, kelembaban udara berkisar 57-96 persen, kecepatan angin berkisar 25-30 kilometer per jam dengan arah angin sebagian besar menuju barat, kecuali  Kota Lahat arah angin daerah ini menuju barat daya.
Dijelaskannya, wilayah provinsi yang memiliki 15 kabupaten/kota ini pada Juni 2013 mulai memasuki musim kemarau, namun masih terdapat cukup banyak hujan atau sering disebut kemarau basah.
“Kemarau basah disebabkan karena terjadi fenomena la nina lemah dan ‘dipole mode’ negatif serta hangatnya temperatur perairan Indonesia yang menyebabkan masih tersedianya uap air,” ujar Indra Purnama

Dalam kondisi kemarau basah tahun ini, kemungkinan terjadinya titik api atau “hot spot” kecil, namun harus tetap diwaspadai.

Selain perlu waspada bencana kebakaran hutan, pada musim kemarau basah sekarang ini, masyarakat diimbau agar tetap waspada kemungkinan terjadinya bencana lainnya seperti tanah longsor dan angin puting beliung, yang beberapa waktu lalu melanda di sejumlah daerah setempat, ujar Indra.

Teks: Junaedi Abdillah

Editor: Sarono P Sasmito




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *