Pasar Mikro Terhimpit Waralaba

pasar-mikro-(2)

Ilst Mini Market | Dok KS

PALEMBANG KS-Larangan pemerintah terhadap batasan gerai  waralaba company owned outlet sebanyak 100-150 gerai tidak memengaruhi pelaku usaha kecil dan menengah. Kini, pasar si mikro pun terhimpit gerai waralaba.

Berdasarkan Pantauan Harian Umum Kabar Sumatera pekan ke-II Juni 2013, tampak beberapa outlet Indomaret dan Alfamart di Jalan Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat (IB) I Palembang masih ramai dikunjungi warga. Sebaliknya pihak waralaba bahkan kian mempertontonkan kegagahan isi outlet waralaba.

Sutarman, pemerhati ekonomi  berkata, semakin banyaknya gerai yang dibangun baik itu Indomaret maupun Alfamart sebenarnya menandakan sebuah indikasi  akan mandulnya Revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31/M-DAG/PER/8/2008

“Coba lihat betapa banyaknya gerai dibangun Indomart dan Alfamart seolah tampil sebagai raksasa yang menelan pelaku UKM. Di mana lagi pelaku UKM akan berkembang jika mereka selalu dihimpit,” jelas Sutarman.

Langkah  Pemerintah untuk mengatur  lingkup bisnis dari status izin waralaba ritel dan waralaba restoran harusnya berimbas baik bagi pelaku UKM. Misalnya,  Sutarman berujar, apabila waralaba memiliki izin restoran, maka 90 persen produk yang dijual adalah makanan termasuk proses memasak. Jika izinnya waralaba ritel, maka 90 persen produk yang dijual barang ritel dan 10 persen  produk lain.

Selain dua poin itu, dalam revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31/M-DAG/PER/8/2008  ini pemerintah akan membatasi porsi produk impor sebesar 20 persen, sedangkan 80 persen yang lain adalah produk lokal. Hanya saja sekarang penyebabnya bisakah pelaku UKM yang keterbatasan modal dan keahlian bisa bersaing dengan duo raksasa mart itu ?

Sementara itu, Amidi pengamat ekonomi juga mengatakan, bila pelaku UKM di Palembang tak perlu menyalahkan menjamurnya bisnis minimarket di kota metropolis.

“UKM tak bisa berserah diri, tak perlu mengeluh, tak boleh menyalahkan waralaba minimarket jika toko atau warungnya sepi. Mereka sebagai pengusaha kecil harusnya bisa mempersiapkan diri,” terang Amidi.

Mempersiapkan diri yang dimaksud Amidi adalah  kalau minimarket penataannya bagus, warung atau toko mereka juga harus ditata dengan bagus. Kalau desain minimarket menarik, tampilan toko mereka juga harus menarik. Minimarket bersih, toko mereka juga harus bersih. Kemudian kalau pelayanan minimarket cepat, toko mereka juga harus punya pelayanan yang cepat.

“Karena UKM ini sebenarnya punya karakteristik khusus yang bisa jadi keunggulan mereka. Perlu seni dalam mengelolanya. Coba bagaimana orang mau belanja, kalau gula, beras, gandum, penempatannya tak teratur, ditumpuk-tumpuk, tak tertata rapi beda dengan di supermarket, mini market. Kalau di minimarket kan diatur, barang berbahaya, minyak, pembersih lantai, obat-obatan, ada tempatnya khusus, untuk makanan ada lagi tempatnya,” terang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang ini.

Kata Amidi, sebetulnya prospek usaha kecil ini sangat luar biasa, karena telah terbukti bisa melewati mampu melewati krisis ekonomi. Usaha kecil ini bisa tangguh dan andal karena dibangun dengan kekuatan sendiri, dengan modal sendiri, tidak mengandalkan kekuatan lain.

“Usaha besar kan umumnya mengandalkan kekuatan pihak lain, mengandalkan dana bank, pihak ketiga. Beda dengan UMKM yang dibangun dengan kemampuan sendiri. Kalaupun ada UMKM yang mati, kalah bersaing, itu karena dia gagal menyiapkan dirinya. Kalau ada warung baru, dia cemas, takut bersaing. Seharusnya tak perlu takut kalau siap bersaing dan terbukti mampu memuaskan pelanggan,” tukas Amidi.

Jelasnya, untuk sukses mengelola usaha mikro, ada dua faktor yang menentukan, yakni manajemen dan kemauan.

“Manajemen, empat manajemen yang kita kenal bisa diaplikasikan di UMKM, mulai dari manajemen SDM, operasional atau produksi, keuangan, dan pemasaran. Untuk manajemen sumber daya, misal kalau usaha keluarga, saat buka usaha siapa nanti yang jaga anak, menyiapkan belanja, mengurus rumah. Sederhana, tapi kalau tak berjalan lancar, bisa mengganggu usaha,” ujarnya

Faktor  seperti ini yang tak dipunyai oleh pengusaha kecil. Dari segi pengetahuan, pengalaman, manajemen dan kemauan mereka lemah. Karena itulah dibutuhkan pendidikan entreprenurship pada masyarakat.

“Bagaimana caranya menumbuhkan jiwa entreprenurship, bagaimana caranya menjadi pengusaha yang  tak kenal menyerah . Itu kuncinya kalau pelaku UKM tak mau tergilas merebaknya waralaba, ” terang Amidi.

TEKS:JEMMY SAPUTERA.EDITOR:RINALDI SYAHRIL.FOTO:BAGUS KS




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *