Palembang Butuh IPAL Terpadu

IPAL

Ilst Ipal

PALEMBANG, KS-Badan Lingkungan Hidup (BLH) baik BLH Sumsel maupun Kota Palembang, sama-sama kompak menyebut limbah rumah tangga adalah penyebab utama menurunnya kualitas air di Sungai Musi.

abid Perlindungan, Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada BLH Sumsel, Hadenli Ugihan beberapa waktu lalu mengatakan dari hasil uji kualitas air di Sungai Musi, limbah rumah tangga seperti sampah dan tinja mendominasi pencemaran di sungai terpanjang di Pulau Sumatera itu.

Untuk mengendalikan pencemaran tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang berencana membangun instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) terpusat. Pembangunan IPAL ini, baru akan dimulai pada 2014 mendatang.

Saat ini menurut kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palembang, M Syafri Nungcik, pemkot masih merumuskan detail engineering design (DED) dan mempersiapkan beberapa kebutuhan termasuk penyediaan lahan.

“Selama ini, pengelolaan air limbah di Palembang menggunakan sistem komunal atau bersifat pemukiman. Sistem komunal, mempengaruhi kualitas air baku Sungai Musi, sebab air limbah pemukiman langsung menuju ke sungai tanpa ada penyaringan,” jelas Syafri.

Syafri mengatakan pembangunan IPAL dibantu AusAID sebesar Rp450 miliar dalam waktu lima tahun. Tahap awal, ada 21.000 sambungan rumah tangga menggunakan sistem ini. Kawasan sambungan masih dipilih, sebab penggunaan sistem ini menggunakan retribusi yang akan dikelola PDAM Tirta Musi Palembang.

“Kita cari kawasannya dulu, karena sistem ini memberikan profit. Biaya pasangnya belum detail, tapi nanti ada perda (peraturan daerah) pengelolaan air limbah. Draftnya kita buat tahun ini,” ujarnya

Meski dibantu AusAID, Pemkot Palembang tetap mempersiapkan uang kerohiman. Dana ini, nantinya digunakan untuk membantu 10.500 dari 21.000 sambungan rumah tangga. Tak hanya itu, perawatan atas kerusakan pipa akan menggunakan dana tersebut. “Itu pun kalau diperlukan, uang kerohiman ini beda dengan ganti rugi,” terangnya.

Saat ini sambung dia, pihaknya masih mempersiapkan lahan di Kecamatan Sei Selayur. Lahan yang dibutuhkan sekitar 6 hektare, sejauh ini baru ada 3,9 hektare yang sudah dibebaskan Pemkot Palembang. “Kita sudah beli tanah masyarakat, selebihnya tanah Pemprov Sumsel. Kita sudah meminta lahan itu dengan membuat surat ke Gubernur Sumsel,” jelas Safri.

Lebih jauh dia menjelaskan, pembangunan sanitasi akan dimasukkan dalam perda pembangunan berkelanjutan. Selain penanganan sanitasi, perda itu juga akan mengatur penanganan persampahan dan drainase.

“Kita sudah buat draft perdanya dan nanti akan di bahas di tingkat legislatif dan pansus (panitia khusus). Perda ini nanti bisa digunakan pemimpin ke depan dalam melaksanakan program pembangunan,” jelasnya.

Sementara itu Wali Kota Palembang, Eddy Santana Putra menjelaskan, pembangunan IPAL itu merupakan bantuan dari ADB dan AusAID. Di Indonesia, ada lima kota yang akan akan mendapatkan program Metropolitan Sanitation Managemen Investment Project (MSMIP) senilai Rp1,2 triliun.

“Kelima kota yang akan mendapatkan bantuan ini yakni Palembang, Bandar Lampung, Jambi, Pekanbaru, dan Sulawesi, “jelas Eddy.

Pengelolaan sistem air limbah secara keseluruhan itu kata Eddy, membutuhkan dana sebesar Rp1,3 triliun. Dari bantuan ini, pihaknya memprediksikan hanya mendapatkan Rp200 miliar sampai Rp300 miliar. ”Karena itulah, kita harus cepat agar dapat dana lebih besar,” jelas Eddy

Dalam pembangunan IPAL terpusat ini beber Eddy, pengolahan air limbah rumah tangga sebelum masuk ke dalam sungai akan dikelola lebih dahulu. Sehingga, racun yang ada pada limbah rumah tangga itu, tidak mengotori aliran sungai.

”Nanti air limbah itu, diolah untuk menghilangkan zat beracun, baru air limbah tersebut baru masuk ke dalam sungai, dan Program ini diperuntukkan bagi kota dengan penduduk diatas 1 juta jiwa,” tukasnya.

Tiga Proses Pengelolaan Limbah

IPAL Terpadu adalah instalasi pengolahan limbah, yang menampung dan mengolah air limbah dari beberapa industri yang berada di daerah layanannya. Konsep IPAL terpadu ini, telah banyak dipakai di kawasan-kawasan industri karena memang memberi manfaat yang cukup tinggi dalam penerapannya.

Pengolahan limbah, dimaksudkan untuk menurunkan tingkat cemaran yang terdapat dalam limbah sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan. Pengolahan air limbah biasanya menerapkan tiga tahapan proses yaitu pengolahan pendahuluan (pre-treatment), pengolahan utama (primary treatment), dan pengolahan akhir (post treatment).

Pengolahan pendahuluan ditujukan untuk mengkondisikan alitan, beban limbah dan karakter lainnya agar sesuai untuk masuk ke pengolahan utama. Pengolahan utama adalah proses yang dipilih untuk menurunkan pencemar utama dalam air limbah. Selanjutnya pada pengolahan akhir dilakukan proses lanjutan untuk mengolah limbah agar sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

Terdapat 3 (tiga) jenis proses yang dapat dilakukan untuk mengolah air limbah yaitu proses secara fisik, biologi dan kimia. Proses fisik dilakukan dengan cara memberikan perlakuan fisik pada air limbah seperti menyaring, mengendapkan, atau mengatur suhu proses dengan menggunakan alat screening, grit chamber, settling tank/settling pond, dan lain-lain.

Teks     : wikipedia

Editor  : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *