Kantor Gembala Sriwijaya Dibakar Massa

IMG_1604

PT Gembala Dibakar Massa | Foto : Junaidi KS

INDERALAYA, KS-Sore itu, Selasa (18/6), menjadi kisah yang akan selalu diingat oleh Baihaki, Satpam PT Gembala Sriwijaya. Tak pernah diduganya,  ia harus dihadapkan dengan kejadian yang tak pernah dipikirkan dalam hidupnya.

Ya, sore itu tanpa diduga oleh Baihaki sebelumnya, puluhan massa yang beringas mendatangi kantor tempatnya bekerja. Puluhan massa yang diduga berasal dari Desa Tanjung Pering, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI) itu, dengan emosi langsung merengsek ke areal kantor perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng), tak jauh dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) samping Universitas Sriwijaya (Unsri).

“Kejadian begitu cepat, sekitar 15 menit. Saat itu, saya berada di dalam kantor dan melihat ada puluhan massa yang langsung membabi-buta melempari kantor dengan batu dan bom molotov ke dalam ruang kepegawaian,” kenang Baihaki.

Tanpa bisa dicegah, api pun langsung membara. Si jago merah, mengamuk membakar kantor utama perusahaan tersebut. Tak pelak kondisi mencekam ini, membuat semua karyawan PT Gembala Sriwijaya ketakutan. Mereka pun termasuk Baihaki, lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

“Bukan hanya kantor, tiga unit mobil karyawan juga dirusak massa. Tiga unit mobil yang dirusak yakni mobil Toyota Prado B 1077 AD, Mitsubishi Strada BG 8028 T, dan Daihatsu Taft B 2155 NS,” jelasnya.

Usai melakukan pembakaran kantor PT Gembala Sriwijaya, sekelompok massa mengarah ke rumah pengusaha jual beli tanah, Siwil alias Jumhair, Direktur CV Andika Prima. Untungnya pengerusakan rumah Siwil itu, bisa dihalangi warga yang sedang duduk-duduk didekat rumah Siwil sehingga rumah pengusaha tanah kaplingan itu hanya mengalami kerusakan pada bagian atap rumahnya saja.

Informasi yang dihimpun Kabar Sumatera, kisah kelam yang terjadi di PT Gembala Sriwijaya sore itu, berawal dengan aksi penganiayaan yang dialami salah seorang warga yakni Ketua LSM Indonesia Madani (Indoman), Subianto, dua hari lalu.

Warga pun mendatangi Kepolisian Resort (Polres) OI. Mereka mengadukan penganiayaan yang dialami Subianto itu, mereka menuntut kepolisian, menangkap dan menahan Pawi. Pawi diduga adalah pelaku penganiayaan terhadap Subiano, Pawi juga dicurigai orang suruhan PT Gembala Sriwijaya.

Namun dialog antara warga dengan pihak kepolisian, tak memuaskan massa yang telah lama menunggu di halaman Mapolres OI. Tersulut emosi, sebagian warga ini mendatangi kantor PT Gembala Sriwijaya.

Sementara itu, Kepala Administrasi PT Gembala Sriwijaya, Putra Jaya dibincangi Kabar Sumatera, mengaku tidak tahu persis penyebab amuk massa itu. Awalnya sebut dia, pihaknya melihat ada massa dengan jumlah banyak datang mengapling tanah disamping kantor PT Gembala Sriwijaya.

Melihat adanya aktivitas itu, pihaknya hanya memperhatikan saja. Namun selanjutnya massa langsung mendatangi kantor melempari hingga membakar.

“Semua karyawan panik, sehingga diarahkan untuk menyelamatkan diri. Selama ini kami hanya berdiam diri. SK Gubernur jelas-jelas kalau lahan ini milik PT Gembala Sriwijaya. Akibat kebakaran itu, kami mengalami kerugian mencapai Rp300 juta. Ini belum termasuk kerusakan mobil kantor. Ya, untuk sementara operasional kantor dilakukan secara darurat,” ujarnya.

Di tempat terpisah, juru bicara warga, Subiyanto didampingi perwakilan warga lain Bukhori mengaku, tidak tahu menahu kejadian pembakaran PT Gembala Sriwijaya tersebut.

 

Sebab saat kejadian, warga Desa  Tanjung Pering sedang melakukan pertemuan dengan salah satu warga yang ingin membuat masjid.  “Kita tidak tahu kenapa jadi begini, kami sedang mengadakan pertemuan di Polres dan rencananya ingin mengecek lokasi pembangunan masjid. Sebelum ke lokasi, kami makan dulu di rumah pak Bukhori, rupanya mendapat kabar ada kejadian pembakaran PT Gembala,” ujarnya seraya meminta pihak berwajib dapat menangkap Pawi, yang diduga kuat melakukan penganiayaan tehadap dirinya dua hari lalu.

Petugas Polres OI, yang mendapat informasi adanya kejadian itu langsung menuju ke tempat kejadian perkara (TKP). Alhasil petugas, berhasil mengamankan delapan warga, yang diduga menjadi otak pembakaran.

Wakapolres OI, Kompol Lisbet mengaku pihaknya tidak mengira akan terjadi seperti ini. Sebab pihaknya menganggap, permasalahan ini sudah selesai setelah sebelumnya terjadi dialog dengan perwakilan warga di ruang pertemuan Mapolres OI.

“Tuntutan warga meminta penahanan Pawi, yang diduga melakukan pemukulan terhadap perwakilan warga, Subianto. Namun, kami tidak bisa menahannya langsung karena besok (hari ini) yang bersangkutan baru akan dipanggil dimintai keterangannya perihal pemukulan itu,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Edy Rahmat didampingi Kabag Ops Polres OI, Kompol CH Ridwan menambahkan, pihaknya akan melakukan proses hukum terhadap kasus pembakaran terhadap kantor PT Gembala Sriwijaya.

Edy menilai sekelompok massa itu, sudah bertindak anarkisis dilapangan dengan membakar, membawa senjata tajam dan lainnya. “1×24 jam, mereka (8 warga yang ditangkap) kami amankan dan akan segera diproses. Jika terbukti salah maka akan kami tahan. Jika tiudak terbukti ikut melakukan pembakaran akan dilepas,”tutur Kasat.

Terpisah, Direktur CV Andika Prima, Jumhair alias Siwil mengaku pihaknya tidak ikut campur dalam masalah pembakaran yang dilakukan sekelompok massa itu. Apalagi permasalahan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

“Saya tidak ada masalah dengan warga, tapi kenapa warga menyerang rumah saya hingga ingin membakar rumah saya. Ya, ada beberapa bom molotov yang ditemukan pekarangan rumah. Untung saja hanya genteng yang rusak dilempari batu oleh massa,”tuturnya.

Atas kejadian itu, dirinya mengaku tidak merasa takut. Sebab, ia memiliki data dan dokumen sah atas kepemilikan lahan di Desa Tanjung Pering itu. “Dari awal kasus ini, kami memang tidak ikut-ikutan karena memang saya tidak punya masalah dengan warga Desa Tanjung Pering. Silakan saja warga melaporkan perihal penyerobotan lahan. Sebab saya memiliki dokumen sah kepemilikan lahan,” tukasnya.

Teks      : Junaedi Abdillah

Editor   : Dicky Wahyudi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *