Demonstrasi dan Sikap Polisi

OLEH SARONO P SASMITO

AKSI unjuk rasa buruh dan mahasiswa yang menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terus berlangsung  di berbagai kota, Senin (17/6) lalu. Belasan pengunjuk rasa serta wartawan menjadi korban dalam aksi bentrokan antara massa dan polisi. Di Palembang pun demo seperti itu juga terjadi dan diprediksi tak akan terhenti.

Kalau menyimak demo di Jakarta, di tengah hujan deras yang turun pada pagi tidak menyurutkan ribuan mahasiswa dan buruh untuk berunjuk rasa yang cenderung bersikap anarkistis. Mereka memblokir jalan tol di kawasan Gatot Subroto hingga ke arah Slipi, Jakarta Barat. Mereka juga memenuhi halaman depan gedung DPR RI.

Saat itu mengakibatkan kemacetan parah di Ibu Kota. Para pengguna jalan terjebak berjam-jam di dalam kendaraannya. Jalan tol yang ada di kawasan Jalan S Parman menuju Gatot Subroto-Pancoran hingga ke arah Bekasi juga lumpuh berjam-jam.

Di provinsi lain,  yakni di Jambi Antonius Nugroho Kusumawan, kontributor stasiun televisi Trans7 di Jambi, harus menjalani perawatan intensif di RSUD Raden Mattaher. Ia mengalami luka di bagian pelipis kanan akibat terkena serpihan peluru gas air mata. Gas air mata ditembakkan polisi untuk membubarkan aksi mahasiswa yang berjumlah sekitar 500 orang. Rekan Antonius, Syaipul Bukhori, mengatakan, saat ini korban telah selesai menjalani operasi untuk mengeluarkan serpihan selongsong gas air mata. Di Provinsi Jambi semua elemen yang terlibat aksi unjuk rasa itu memaksa masuk ke dalam gedung DPRD. Namun, polisi menghalang-halangi massa. Akhirnya, antara polisi dan massa terjadi saling pukul. Bukan hanya itu sejumlah wartawan yang sedang meliput tiba-tiba mendengarkan bunyi letusan. Tak lama kemudian terdengar suara Anton mengaduh dan minta tolong. Dalam keadaan terluka di bagian wajah, beberapa jurnalis dan warga kemudian memapah Anton ke dalam sebuah mobil dan melarikannya ke RSUD Raden Mattaher.

Bukan hanya di  Jakarta dan Sumatera, di Ternate, seorang fotografer harian Mata Publik, Roby Kelerey, juga tertembak di paha kiri. Informasi yang diperoleh Aliansi Jurnalis Independent (AJI) menyebutkan, aksi penembakan itu terjadi ketika demonstran yang berjalan menuju ke arah Kota Ternate dibubarkan polisi di kawasan Ngade, sekitar 1,5 km dari Universitas Negeri Khairun, Ternate. Serangan itu menyebabkan lima mahasiswa terluka. Saat itulah, Roby bersama beberapa jurnalis ingin mengambil foto korban luka. Saat berjalan ke arah mahasiswa, tiba-tiba Roby terjatuh dan pinggul bagian bawahnya tertembak sebuah peluru karet. Roby telah dievakuasi ke RSUD Ternate dengan pengawalan ketat dari polisi. Polisi melakukan pelarangan kepada siapa pun untuk mendampingi Roby.

Menyikapi kejadian demi kejadian tersebut  kita  masyarakat pers mengutuk keras peristiwa kekerasan yang menjadikan jurnalis sebagai targetnya. Apalagi, jika benar aksi kekerasan kepada jurnalis itu benar dilakukan oleh polisi. Jurnalis itu berada di lokasi karena aktivitas jurnalistiknya. Dan, aktivitas itu dilindungi UU Pers.

Kita tidak bisa membiarkan hal ini, kasus kekerasan terhadap jurnalis selalu berulang karena negara melalui aparat penegak hukum terus melakukan praktik impunitas yang membuat para pelaku tidak tersentuh hukum. Akibatnya, tidak ada efek jera. Makin lama orang menjadi makin abai bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi. Hal ini jelas preseden buruk yang tidak bias kita biarkan dari waktu ke waktu. Untuk itu kita meminta kepada Kapolri agar menginstruksikan kepada anggotanya agar menghindarkan diri dari tindakan-tindakan refresif seperti itu. Sebab korbannya adalah rakyat sendiri dan makin memperburuk keadaan ketika kebencian terhadap polisi tak bisa dibendung lagi.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *