Air di Palembang Kian Tercemar

penuh_sampah

Anak Sungai Musi di Pasar Sekanak , penuh dengan sampah | Dok KS

PALEMBANG, KS-Sungai Musi, menjadi saksi bisu peradaban yang pernah ada di Sumsel. Sungai sepanjang 750 kilometer tersebut, sejak era Sriwijaya sampai kini menjadi salah satu urat nadi kehidupan warga Palembang.

Sejarah mencatat, sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini sejak lama dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur transportasi. Tidak hanya sebagai jalur transportasi, air sungai tersebut dimanfaatkan warga untuk aktivitas sehari-hari mulai dari mandi, cuci dan kakus (MCK) bahkan sebagai sumber baku air minum.

Namun kini, nasib Sungai Musi kian meradang. Sungai tersebut kian tercemar. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel menyebut, tingkat pencemaran fecalcoli di Sungai Musi cukup tinggi.

Faktor utamanya, adalah banyaknya kotoran manusia atau hewan yang dibuang ke sungai kebanggan masyarakat Kota Palembang ini. Bahkan pencemaran fecal coli tidak hanya terjadi di perairan Sungai Musi saja, tapi telah meluas ke 12 titik sungai yang ada di Sumsel.

“Data BLH Sumsel, dari 72 daerah aliran sungai (DAS) Sungai Musi yang dipantau ada 28 DAS yang tercemar. Pencemarannya katagori sedang, air Sungai Musi masih layak untuk bahan baku air minum,” kata Kepala BLH Sumsel, Bakhnir Rasyid.

Selain fecal coli, sampah rumah tangga juga dominan mencemari sungai tersebut. “Hasil pengujian kita pada 2011, dari sample air yang diambil di kawasan Ampera dan Sungai Ogan, menunjukkan status mutu kualitas air menurut sistem nilai storet berada pada minus 50. Sementara di 2010, nilai storet pada angka minus 24,” jelas Kabid Perlindungan, Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada BLH Sumsel, Hadenli Ugihan.

Dari pemeriksaan kualitas air skala minus satu sampai minus 10 dikatagorikan pencemaran ringan. Sedangkan skala minus 11 sampai minus 30 di katagorikan pencemaran sedang, sementara pada skala minus 30 keatas maka dikatagorikan pencemaran berat.

Sementara itu Kepala BLH Kota Palembang, Agoeng Noegroho menyebut walau kualitas air Sungai Musi turun namun masih layak untuk diminum tentu dengan syarat harus diolah terlebih dahulu.

“Dari hasil penelitian kita di 20 titik pada 9 anak Sungai Musi menunjukkan, kadar posfat dalam air Sungai Musi melebih batas buku mutu lingkungan. Saat ini sudah mencapai 3,7 mg/liter. Idealnya 0,2 mg/liter. Tetapi air nya tetap layak dijadikan bahan baku air minum, sebab pencemarannya tidak menyebar ke seluruh sungai,” kata Agoeng beberapa waktu lalu.

Ke sembilan anak sungai itu yang diambil sampelnya adalah Sungai Sekanak, Sungai Buah, Sungai Aur, Sungai Sriguna, Sungai Ogan, Sungai Keramasan, Sungai Bendung, Sungai Lambidaro dan Sungai Kedukan.

Untuk memantau kualitas air Sungai Musi, BLH sudah memasang empat alat pemantau kualitas air. Alat itu dipasang di kawasan Kertapati, di bawah Jembatan Ampera, dan di Plaju. “Alat ini sudah dipasang Desember 2012. Saat ini sudah berjalan, tinggal tunggu launching-nya dari kementerian,” ungkapnya

Teks      : Dicky Wahyudi

Editor  : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *