Menuntut Bukti Komitmen Pemerintah

saronoOLEH SARONO P SASMITO

GEJOLAK melambungnya harga kebutuhan pokok hingga saat ini di daerah kita Sumatera Selatan ini makin menjadi-jadi. Misalnya untuk harga minyak sayur di beberapa tempat yang semula hanya Rp 10.000 menjadi Rp 13.000 per kg, sedangkan untuk harga telur naik Rp4.000 per kg, dari harga Rp18.000 menjadi Rp 22.000.

Sementara untuk harga sayur-mayur  juga dalam sepekan ini sedikit mengalami kenaikan. Kenaikan dialami harga cabai keriting merah dari Rp18.000 menjadi Rp 22.000 per kg. Begitu pula dengan kentang dari harga Rp6.000 menjadi Rp 7.500 per kg bahkan lebih. Sementara harga kubis  juga terus fluktuatif  dari Rp 5.000 per kg terus mengarah naik, wortel lokal ukuran besar Rp10.000 per kg, wortel ukuran sedang Rp6.000 per kg. Semua harga itu saat ini pada kondisi yang sangat tentative artinya sewaktu-waktu bias saja mengalami kenaikan.

Dalam kondisi demikian wajar kalau rakyat yang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak bias tidak maka harus meminta pertanggungjawaban pemerintah.

Ketika hal itu kita tanyakan dan minta kepeduliannya, pemerintah melalui Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan justru meminta masyarakat tidak usah khawatir dengan persediaan sembilan bahan kebutuhan pokok. Namun, Mendag mengakui, di sejumlah daerah terjadi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok.

Pernyataan itu dikemukakan menteri usai membuka Pameran Pangan Nusantara dan Produk Unggulan Khas Daerah di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/6) lalu.  Mendag mengakui, pemerintah belum bisa menstabilkan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Namun, dia berharap, masyarakat tidak perlu khawatir. Beras, gula, dan telur sudah terpenuhi karena persediaan masih cukup. Begitu juga dengan komoditas kedelai, jagung, dan pangan lainnya.

Padahal, dalam kenyataannya  harga berbagai kebutuhan pokok tersebut terus merangkak naik.  Kenaikan harga tiap jenis sembako bervariasi, yaitu antara 5 sampai 30 persen.

Kita bahkan mencatat kenaikan  harga tersebut sudah terjadi bahkan ada yang sejak beberapa bulan lalu. Kita juga mencatat dua penyebab kenaikan harga, yaitu menjelang bulan puasa dan ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Oleh karena itu wajar jika kekhawatiran kita makin dalam jika harga BBM dinaikkan, maka jelas sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Hal ini akan sangat membebani masyarakat.

Sedihnya meski menteri sudah mengeluarkan pernyataan demikian saat di Palembang, namun, pemerintah tidak bias menjamin tidak ada kenaikan harga kebutuhan pokok justru yang paling dibutuhkan oleh masyarakat saat ini.  Sesungguhnya selain membutuhkan jaminan harga kebutuhan pokok agar tidak naik, masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah membutuhkan jaminan pendidikan, jaminan kesehatan, jaminan perumahan, dan jaminan tempat usaha yang saat ini makin jauh dari harapan mereka. Oleh karena itu sekali lagi kita mengharapkan komitmen pemerintah tersebut dibuktikan dalam tindakan. Sebab kalau tidak krisis kepercayaan dari rakyat ke pemerintah akan makin meluas. Kondisi ini tentu sangat tidak baik untuk menjaga kondusifitas kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bukan hanya itu ketidakstabilan harga ini ketika tak terkendali bisa saja memicu gejolak social yang susah untuk diatasi. Moga pemerintah tak ketinggalan langkah, setelah masalah kronis dan meluas tak akan dapat begitu saja dipadamkan dan dicari solusinya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *