MEMANUSIAKAN PEREMPUAN

Rumilasari

Rumila Sari

(Mahasiswi Pasca Sarjana IAIN Raden Fatah Palembang)

Mari kita mempolisikan dan mengulamakan diri kita masing-masing ketika melihat dan menyikapi  kekerasan seksual ini sehingga kita tidak berat tangan ketika ada kasus demikian di lingkungan kita berada”.

Berbicara soal perempuan, berarti membicarakan orang yang lembut dan orang perlu di hormati, karena wanita lahir dari tulang rusuk laki-laki. Artinya perempuan itu lahir untuk memuliakan kaum adam. Sosok seorang ibu adalah seorang yang menjadi arti bagi anak-anaknya, karena semuanya dibesarkan oleh sosok lembut wanita itu.  Namun apa yang terjadi! Wanita yang seharusnya dimuliakan dan dilindungi itu malahan di jadikan sapi parahan, diperjual belikan demi mereguk keuntungan dari penjualan itu. Contoh yang sering kita saksikan dilayar kaca, tulisan-tulisan di media semuanya banyak mendiskriminasikan perempuan, sehingga bisa terjadi pelecehan seksual yang menjurus keperkosaan, hingga dijadikan barang-barang dagangan untuk bisnis prostitusi di Indonesia dan yang lebih menyedihkan adalah anak-anak di bawah umur. Tragis.

 

Plash back ke belakang, zaman Jahiliyah kaum wanita sungguh tidak berguna lagi berarti. Dijadikan barang dagangan dan juga hanya pemuas nafsu seks saja. Namun sepertinya zaman sekarang ini menjadi titik balik  zaman yang memilukan itu yaitu zaman yang tidak manusiawi. Lihatlah akhir-akhir ini maraknya perdagangan anak perempuan yang di bawah umur yang lazimnya mereka menikmati  kebahagiaan hidup yaitu kumpul dengan keluarga, sekolah dan bercanda ria dengan teman sebayanya.

Yang menjadi pertanyaan, apa memang hal tersebut terjadi karena kebodohan mereka karena tidak mampu memilah dan memilih orang-orang di sekitarnya, atau memang orang tua yang tidak mampu mengontrol mereka. Belum lagi kasus pemerkosaan yang terjadi di mana-mana, baik nasional maupun internasional, ironisnya hal tersebut terjadi lagi-lagi pada anak di bawah umur walaupun tidak secara keseluruhan. Hal ini menjadi pertanyaan besar lagi, apa saat masa ini masih layak perempuan dipersalahkan dengan fisik mereka yang cantik, seksi sehingga mengundang kekerasan seksual. Tapi kenyataannya bagaimana halnya kekerasan seksual yang terjadi  pada anak SD? Apakah mereka sudah cukup memiliki predikat menarik dan bahkan seksi?

Innalillah…! Sebenarnya apa yang salah sehingga terjadi lagi dan lagi hal yang demikian di tengah masyarakat. Apa memang masyarakat tidak memiliki lagi moral di dalam diri mereka atau memang pengetahuan agama tidak ada  sehingga masyarakat tidak bisa membentengi diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila tersebut. Jika kita melihat mayoritas masyarakat Indonesia beragamakan Islam, dimana letak keislaman mereka sehingga melakukan hal keji itu, bisa jadi keislaman itu hanya tertempel di KTP saja.

Dimana pemerintah yang terhormat? Dimana ulama yang saleh?, agaknya terkesan menjadi beban besar bagi aparat pemerintah maupun ulama untuk ikut menyelesaikan permasalahan tersebut. Mari kita mempolisikan dan mengulamakan diri kita masing-masing ketika melihat dan menyikapi  kekerasan seksual ini sehingga kita tidak berat tangan ketika ada kasus demikian di lingkungan kita berada. Hal ini menjadi cambuk keras khususnya yang menjadi tugas besar bagi orang tua untuk tidak hanya mengawasi anak-anak mereka namun juga membentengi  dengan pendidikan agama yang sesuai. Agama tidak saja menjadi identitas diri namun seharusnya menjadi pisau diri yang siap menusuk ketika gangguan syaiton itu datang di dalam diri seseorang.

Bukan saatnya lagi untuk mempersoalkan anugerah indah yang diberikan Allah SWT kepada sang wanita, namun bagaimana caranya menciptakan keamanan dan kenyamanan kepada mereka. Wanita bukan barang mainan atau baju yang siap disobek sana dan sini. Wanita bukanlah mahluk lemah yang selalu dilemahkan dan mari sama-sama memanusiakan wanita. Mudah-mudahan dengan kita semua memposisikan diri kita masing-masing layaknya polisi yang sigap dan ulama yang bijak menjadikan negara kita “baldatun thoyyibah wa robbul ghofur.”




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *