Di PALI Ada Jual Beli Ijazah?

PALI, KS-Kabar tak sedap menyeruak dalam dunia pendidikan di Bumi Serepat Serasan (PALI). Entah benar atau tidak, sebuah perguruan tinggi milik Yayasan di Kabupaten Muaraenim yang membuka kelas jauh di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), disebut-sebut memjualbelikan praktIk kuliah singkat (cepat) alias ekspres.

Cukup dengan membayar dengan segepok uang, Rp17 juta – Rp20 juta, mahasiswa yang ingin cepat dapat gelar Sarjana (Strata Satu/S.1), cukup dalam waktu enam bulan saja. Bagi yang ingin gelar S2 cukup 12 bulan, dengan biayanya sebesar Rp24 juta. Tak hanya kuliah cepat, menurut informasi yang berhasil dihimpun Kabar Sumatera di lapangan, bukan hanya jual beli gelar melainkan ada jual beli nilai antara mahasiswa dan dosen.

Terciumnya dugaan kegiatan jual beli gelar dan nilai yang terjadi di Yayasan Perguruan Serasan (YPS) di Muaraenim untuk Kelas Jauh, Kampus Talang Ubi Pendopo ini, atas informasi dari laporan masyarakat melalui surat kepada dua media lokal di PALI. Salah satu orang tua atau wali mahasiswa di YPS yang tidak mau disebut namanya itu menjelaskan secara jelas, tentang praktik dan sistem kuliah cepat dimaksud.

Dalam suratnya, sumber Kabar Sumaterta itu mempertanyakan dan meminta kejelasan informasi yang ia terima kepada pihak Yayasan. Sumber itu mempertanyakan ada dan tidaknya sistem kuliah dimaksud. “Kalaupun benar adanya informasi tersebut dan resmi, orang ini ingin juga anaknya ikut dalam program kuliah itu,” tulisnya.

Sebab, dalam surat tersebut, dijelaskan anak-anak mereka ditawari oleh salah seorang dosen di YPS yang bertugas sebagai TU, berinisial SA. Oknum ini menawarkan kepada sejumlah warga untuk ikut sistem kuliah cepat. Menurut SA, gelar sajrana (S.1) yang seharusnya ditempuh antara 3-4 tahun, cukup ditempuh enam bulan saja. Hanya dengan biaya Rp17 juta-Rp20 juta, gelar sarjana S.1 bisa segera diraih. Sementara bagi  mahasiswa yang ingin mendapat gelar S.2 (Magister) yang secara normal harus di temph selama 2 tahun, namun di YPS cukup 12 bulan dengan biaya Rp24 juta.

Kabar inilah yang saat ini mengundang banyak tanya warga kepada pihak YPS di Muaraenim. “Apakah program ini resmi dari YPS? Dan apakah ijazahnya nanti diakui? Soalnya, informasi itu sendiri kami dapat dari orang lain yang juga pernah daftar. Orang dimaksud, nama dan jabatannya juga disebut dengan jelas dalam surat tersebut yakni sebagai Kepsek di salah satu SD. Nah, karena disebut-sebut program ini resmi, maka ada 40 orang lebih mahasiswa YPS Muaraenim kelas jauh di Talang Ubi Pendopo, berniat pindah ke program tersebut,” tulis sumber itu.

Dalam suratnya, warga itu juga mempertanyakan oknum SA yang juga dosen di YPS. Menurut sejumlah sumber, oknum SA sering merubah nilai mahasiswa. Sumber itu menjelaskan, oknum SA menawarkan kepada sejumlah mahasiswa tentang harga nilai akademik. Bagi mahasiswa yang ingin mendapat nilai A, harus membayar 500 ribu rupiah dan kalau mau nilai B, tarifnya 300 ribu rupiah.

“Kok mudah sekali mau jadi sarjana hanya 6 bulan. Anak kami pun mau ikut kalau memang resmi. Jadi atas nama orangtua mahasiswa, kepada bapak yang paham masalah ini tolong dijelaskan, agar kami tak ragu lagi,” demikian pinta orang tua yang mengirim surat tersebut, yang ditembuskan kepada Bupati, Kadisdik, Rektor Yayasan Perguruan, Pengawas Perguruan Tinggi, Kapolres, Kapolsek dan Camat setempat.

Menurut sumber Kabar Sumatera, praktik jual beli gelar dan nilai di YPS sudah sejak lama berlangsung. Bahkan salah satu mantan dosen  yang pernah berkiprah di radio Palembang menyebutkan, dirinya pernah ditawari mengajar dengan cara meminta mahasiswa membelikan pulsa untuk nilai akademik. “Kau jangan bodohlah. Kalau kau mengajar disini, kau bisa saja minta pulsa dengan mahasiswa, sebagai gantinya kita kasih nilai mahasiswa itu sesuai dengan jumlah harga pulsa,” ujar salah satu oknum di YPS di tahun 2004. Namun dosen yang kini sudah kembali ke Palembang itu, akhirnya memutuskan membatalkan tawaran mengajar di YPS. “Ini permainan mafia. Oknum yang bermain tidak sendirian tapi sudah jadi mafia. Oknum itu bekerjasama dengan oknum dari Palembang dan petinggi salah satu PTS di Palembang,” ungkap sumber tersebut.

Salah seorang mahasiswa di Yayasan Perguruan Serasan yang namanya enggan disebut, saat ditanya wartawan soal ini, juga mengaku pernah mendengar adanya informasi kuliah singkat ini. “Ya, saya memang sudah dengar. Informasinya memang ada. Baru-baru inilah saya terdengar saya dengar tentang itu,” ujar mahasiswa asal Talang Ubi itu, kemarin, Kamis (13/6)

Sedangkan oknum SA, yang dituding melakukan praktik jual beli itu, belum bisa bisa dikonfirmasi. Saat wartawan Kabar Sumatera mencoba menghubunginya petang kemarin sekitar pukul 17.30 WIB di nomor 081286926xxx, hand phone yang bersangkutan dalam keadaan tidak aktif. Berkali-kali coba dihubungi, tetap tidak aktif.**

YPS : Tidak Ada Jual Beli gelar dan Nilai

 

Sementara itu, mendengar adanya informasi ini, pihak Yayasan ternyata langsung merespon cepat bocoran surat ‘kaleng’, yang dikirimkan orangtua mahasiswa kepada media.

Ketua Pembina Yayasan Perguruan Serasan, H Anwar Mahakil, melalui Farid, utusannya langsung membantah semua tudingan tersebut. Bahkan, bantahan tersebut mereka rekam untuk disiarkan melalui Radio lokal di PALI. Dede Apriandi, Operasional Manager (OM) Radio PALI, membenarkan adanya bantahan pihak Yayasan terhadap edaran surat yang sudah terdengar di kalangan Rakyat PALI secara luas. “Ya, pagi tadi (kemarin) ada utusan Pak H Anwar Mahakil, merekam statemen berisi bantahan untuk disiarkan di radio kami. Sore ini (kemarin-red) mulai mengudara,” ucap Dede.

Dede sendiri mempersilakan Kabar Sumatera untuk mendengarkan pernyataan utusan Anwar Mahakil menindaklanjuti surat orangtua wali mahasiswa YPS kelas jauh kampus Talang Ubi Pendopo yang mempertanyakan sistem kuliah cepat yang ditawarkan staf SA.

Dalam pernyataanya, Farid, mewakili H Anwar Mahakil mengatakan pihaknya tidak pernah melaksanakan sistem kuliah cepat seperti dimaksud dalam surat tersebut. Menurut Farid, YPS tetap melaksanakan sistem pendidikan sesuai kalender akademik dan kurikulum yang ditentukan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, YPS menjamin tidak akan pernah ada transaksional jual beli kuliah a\maupun tukar menukar nilai seperti yang ditulis dalam surat tersebut.

Apabila hal tersebut benar-benar terjadi di lingkungan Sekolah Tinggi atau di bawah naungan YPS, menurut Farid, maka itu merupakan perbuatan oknum dan tidak akan dilindungi oleh yayasan.

Kepada mahasiswa yang mengalami hal tersebut, diimbau untuk melapor pada pihak yayasan. Kepada para orang tua atau wali mahasiswa YPS, terkhusus kampus Talang Ubi Pendopo yang merasa dirugikan, jika terbukti segera melapor ke pihak berwajib.

“Dan jika tidak terbukti, Yayasan akan menuntut pertanggungjawaban para orang tua atau wali mahasiswa yang telah menyebarkan berita bohong dan mencemarkan atau merusak kredibilitas  Yayasan Serasan. Pihak Yayasan juga memerintahkan saudara SA untuk segera memberikan klarifikasi pada Yayasan terkait masalah tersebut,” ujarnya ketika memberikan siaran pers di radio PALI.

Kepada masyarakat, Farid mewakili YPS mengimbau agar mahasiswa tetap tenang dan menjalankan aktifitas belajar mengajar seperti biasa. “Mahasiswa diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh janji-janji dan iming-iming oknum,” ujarnya dalam siaran radio sebagai klarifikasi yang mengatasnamakan Ketua Pembina Yayasan Serasan, H Anwar Mahakil SH.

Sementara, Ketua Perguruan Serasan, Riswandar SH, ketika dihubungi Kabar Sumatera membenarkan kalau oknum SA, adalah salah satu staf dan dosen di YPS. Namun Riswandar membantah pernyataan bahwa dikampusnya bisa sarjana dalam enam bulan. “Tidak benar itu. Itu isu bohong” ujarnya dengan nada tinggi.**

TEKS : INDRA SETIA HARIS

EDITOR : IMRON SUPRIYADI




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *