Celakalah Petani Kakao

PALEMBANG KS-Dinas Perkebunan (Disbun) Sumatera Selatan (Sumsel) selama 2012 produksi kakao  sebanyak 3.566 ton biji kering dengan luas lahan  9.047 hektar (ha). Produksi semester I 2013 tak lebih dari 0,99 ton per ha. Celakalah petani kakao.

Dian Eka Putra, Kepala Bidang Perencanaan Disbun Sumsel menyampaikan, kakao bisa menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat petani kakao maupun kopi.  Sehingga petani kurang bergairah.

“Petani kopi juga menanam kakao  dan mereka pun mulai menikmati hasil panen secara bulanan,” katanya.

Sementara Kasnadi Bahrie,  eksportir  kopi asal Pagaralam yang dibincangi Harian Umum Kabar Sumatera di Gedung Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia  (AEKI) Sumsel, Rabu (12/6) berkata, gairah produktifitas kopi saat ini bisa dikatakan mati suri. Itu disebabkan karena harga kopi yang tak kunjung membaik, bahkan terakhir harga kopi pernah jatuh di bawah kisaran harga Rp 14.000 per kilogram.

“Nilai harga ini tak berimbang bagi petani. Jadi wajarlah, bila petani kopi banyak yang beralih ke kakao,” ucap Kasnadi.

Ia berujar, sebenarnya pemerintah provinsi telah melakukan upaya pengembangan lahan kopi seluas 500 ha di Lahat dan Pagaralam. Hingga kini, hasil versifikasi  pemerintah  yang meluncurkan program peningkatan produktifitas kopi masih terbilang  belum baik.

“Dari dua hasil komoditi perkebunan itu masih terseok-seok dalam penilaian harga. Entah apa penyebabnya, yang jelas saat ini kondisi para petani masih di liputi keraguan. Harga kakao tingkat petani berkisar Rp 19.000 per kilogram hingga  Rp 21.000 perkilogram. Sementara untuk harga kopi masih berada di bawah Rp 16.000 perkilogram,” katanya.

Lanjutnya, produksi kopi di Sumsel  sebanyak 136.000 ton per tahun dengan luas areal kebun sekitar 256 Ha. Meski masih menjadi tanaman utama bagi petani di beberapa kabupaten, petani tampaknya cenderung semangat untuk menanam komoditas yang bisa dipanen setiap bulan, seperti kakao.

“Hanya sayangnya,  hasil produktifitas kakao yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani justru tak jauh berbeda,” cetusnya.

TEKS:JEMMY SAPUTERA.EDITOR:RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *