TAA Kembali Terkendala

taa

Pelabuhan Tanjung Api Api | Foto : Dok KS

PALEMBANG, KS-Pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Tanjung Api-api (TAA), harus tertunda. Hal itu disebabkan belum keluarnya izin dari pemerintah pusat, pasca keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 tahun 2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Namun di Juni ini, pembangunan KEK TAA diyakini Ketua Komisi II DPRD Sumatera Selatan (Sumsel), Budiarto Marshul, sudah bisa diatasi. Sebab pembebasan lahan, sudah diselesaikan.

Menteri Kehutanan (Menhut) sebutnya, sudah menandatangani pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut di kawasan TAA.

“Ini sesuatu yang sangat penting, dalam rangka mewujudkan pelabuhan TAA dan KEK. Jika ini bisa di jalankan, maka TAA menjadi kawasan pelabuhan samudra dan ekonomi. Dengan demikian investasi, bisa masuk ke Sumsel sehingga bisa menyerap  tenaga kerja cukup besar,”kata Budi ketika dibincangi di ruang kerjanya, Senin (10/6).

Politisi Partai Gerindra ini menyebut, pemerintah provinsi (pemprov) sebelumnya sudah mengajukan izin penggunaan lahan di TAA yang masuk kawasan hutan lindung, sekitar 605 hektar. Kawasan hutan lindung yang terpakai itu, akan diganti di Taman Wisata Sembilang, Banyuasin.

Menurutnya pemprov Sumsel sudah pernah di mengusahakan khusus kawasan tanjung api tapi terakhir di rubah di gabung dengan perubahan tata ruang wilayah jadi secara komprensif serempak dengan wilayah Sumsel.

“Kita sudah dua tahun memperjuangkan ini, dan sudah enam kali berkoordinasi dengan Kementrian Kehutanan agar izin penggunaan lahan di kawasan hutan lindung tersebut di setujui. Karena tanpa itu, TAA tidak terwujud,” ujarnya.

Ia juga berharap, pemprov segera merealisasikan pembangunan yang telah direncanakan di kawasan TAA. Sebab jelas Budi, itu akan berdampak pada perkembangan ekonomi Sumsel.

Hal senada dikemukakan Ketua DPRD Sumsel, Wasista Bambang Utoyo. Ia menyebut, terlalu banyak aturan yang bertentangan antar kementrian sehingga menghambat keluranya izin prinsip pembangunan kawasan TAA.

“Sebenarnya dewan dan pemprov, sudah kompak memperjuangkan kawasan TAA ini agar terealisasi. Persoalannya, terlalu banyak peraturan yang bertentangan. Sebenarnya bisa kita bangun saja kawasan itu, namun akan bertentangan dengan pemerintah pusat. Namun itu harus, kita tembus agar izin prinsip nya keluar,” tukasnya.

Tak Tuntas oleh 5 Gubernur

Nama Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA),  diproyeksikan akan menjadi pelabuhan samudera. Pelabuhan yang terletak di Kabupaten Banyuasin ini, akan menjadi ‘menggusur’ pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di Indonesia termasuk pelabuhan di luar negeri.

Diyakini banyak pihak, jika pelabuhan ini terwujud maka ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) pun bakal tergerek naik. Pemerintah pusat pun, menjadikan kawasan TAA sebagai kawasan ekonomi eksklusif (KEK).

Dalam master plannya, pembangunan pelabuhan TAA meliputi tiga cluster area pembangunan, yakni pembangunan dermaga Kapal Feri, dermaga peti kemas dan lapangan Container.

Namun yang menjadi pertanyaan, dari lima gubernur yang mengadang-gadangkan pembangunan Pelabuhan TAA tersebut, tidak ada satupun yang berhasil mewujudkannya.

“Sudah lima gubernur, tetapi kok Pelabuhan TAA tidak terwujud. Padahal infrastruktur, sangat penting untuk mempercepat investasi,” kritik pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Didik Susetyo, beberapa waktu lalu.

Lima gubernur yang dimaksud adalah Sainan Sagiman, Ramli Hasan Basri, Rosihan Arsyad, Syahrial Oesman dan Alex Noerdin. Selama lima periode kepemimpinan tersebut, berulangkali puluhan investor keluar masuk dan menyatakan komitmennya untuk membangun Pelabuhan TAA. Namun, tidak ada satu pun yang terwujud.

Wali Kota Palembang Eddy Santana Putera, juga menyoroti tidak selesai-selesainya pembangunan Pelabuhan TAA tersebut. Menurut Eddy, selama hampir 5 tahun tidak ada percepatan pembangunan atau optimalisasi TAA.

“Kalau serius TAA bisa dibangun cepat. Dan itu harus terjadi.  Hasil alam kita yang besar bisa dijual lewat sana untuk peningkatan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)  Sumsel,” jelasnya.

Sementara itu Plt Kepala UPTD Tata Ruang Provinsi Sumsel,  Regina Ariyanti mengungkapkan, penyelesaian pelabuhan adalah kunci utama pembangunan kawasan TAA. Jika pelabuhan selesai maka  zona industri di wilayah TAA ada di depan mata. “Kita juga inginnya cepat.  Karena TAA sudah masuk ke dalam rencana pembangunan RTRW Provinsi Sumsel. Tapi memang prosenya cukup panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat,” terang Regina.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, lambannya penyelesaian pembangunan pelabuhan TAA, juga menghambat masuknya  investor ke kawasan TAA. Jika dulunya sudah ada pihak yang jelas menyatakan akan berinvestasi di  Sumsel, tapi kini pihaknya tidak berani lagi memastikan pihak mana yang akan berinvestasi di wilayah TAA.

“Pembangunan pelabuhan TAA yang belum selesai secara otomatis akan membuat investor tidak mau investasi ke wilayah ke TAA. Ketidak tersediaan pelabuhan sebagai akses keluar masuk membuat mereka berpikir ulang jika ingin investasi  disana,” bebernya.

Regina mengungkapkan, dulu ada  investor yang secara tegas dan sudah menyatakan akan membangun di wilayah TAA yakni PT Adani , PT Pusri , Pertamina dan juga PT Nalco. Namun saat ini PT Adani sudah dipastikan mundur dan 3 lainnya mengalami status ketidakjelasan.

Sementara itu, Asisten 2 bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Pemeprov Sumsel, Eddy Hermanto  mengungkapkan, Pemprov Sumsel sudah berusaha dengan maksimal terkait penyelesaian pembangunan pelabuhan TAA. Namun proses  yang  dilalui tidak semudah seperti yang diperkirakan. “Kita sudah mengupayakan dengan maksimal,. Tapi  memang tidak mudah menyelesaikannya karena harus dicek oleh pemerintah pusat,” tandasnya.

Bakal Picu Pertumbuhan Ekonomi

Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA), diyakini akan memicu pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel). Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Amidi, beberapa waktu lalu mengatakan infrastruktur akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, dengan kekayaan alam yang dimiliki Sumsel jika didukung dengan infrastruktur yang baik maka akan banyak investor yang berlomba-lomba untuk menanamkan modalnya ke Sumsel.

“Pertumbuhan ekonomi akan berkembang cepat, jika didukung dengan infrastruktur yang baik, apalagi jika Sumsel berhasil merealisasikan Pelabuhan TAA maka ekonomi Sumsel akan berkembang pesat,” tegasnya.

Pendapat yang sama disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Didiek Susetyo. Ia neyebut infrastruktur akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di suatu daerah.

Ia yakin, jika Pelabuhan TAA terwujud maka akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Sumsel. Sayangnya kata Didiek, pelabuhan itu tidak kunjung terwujud walaupun sudah berganti lima gubernur.  “Pertumbuhan ekonomi, sangat dipengaruhi inftrastruktur. Selain itu, juga dipengaruhi tinggi dan rendahnya produktivitas,” ujarnya.

Teks    : Dicky Wahyudi

Editor : Imron Supriyadi




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *