SFC U-21 Berbagi Angka

PALEMBANG | KS-De ja vu, skor pertandingan antara Sriwijaya FC (SFC) melawan Persita Tangerang pada kancah kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21 2013 kembali berakhir dengan skor identik.
Usai pertemuan perdana kedua tim pada putaran pertama kompetisi silam (28/4) berakhir dengan skor 0-0, kedua yang kembali bertemu di tempat yang sama yakni di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Palembang, Minggu (9/6) kemarin, juga berakhir dengan skor kacamata.
Sejak peluit dibunyikan tanda permainan dimulai dan sampai peluit panjang dibunyikan tanda permainan usai, kedua kubu terlihaat saling serang, tapi tak membuat keduanya mampu menyarangkan golnya ke penjaga gawang masing-masing hingga babak 1 usai.
Begitu juga dengan babak kedua, kedua kubu saling serang ke gawang lawan, namun sampai menit 90, skor masih 0-0. Wasitpun menambah waktu 4 menit kepada para pemain. Tim tamu Persita tangerang mengancam ingin keluar lapangan saat injury time berlangsung di pertandingan. Keributan berlangsung lantaran tim Persita tidak menerima atas tendangan pinalty yang diberikan kepada tim Laskar Wong Kito.
Pelanggaran dilakukan oleh tim Persita atas nama Reky terhadap saat terhadap anak asuh Edi Iswantoro, Rivan. Namun setelah dibicarakan, akhirnya tim tamu menerima keputusan wasit dengan memberikan tendangan pinalty oleh tuan rumah. Golpun tercipta dari kaki Rizky Dwi Ramadhan pada injury time, skor menjadi 1-0. Usai menang, lapangan kembali rusuh antara pemain, wasit. Pelatih dan pihak kepolisian.
Pelatih Sriwijaya FC U-21, Edi Iswantoro mengungkapkan senang dengan 3 poin yang diraih anak asuhnya, meski lewat tendangan pinalty. Ia menilai tim lawan terlalu berlebihan lantaran tidak menerima keputusan wasit lapangan.

 

“Memang kita harus menang. Sudah jelas-jelas Rivan menjadi korban pelanggaran. Kejadian tersebut saya sendiri melihat di depan mata saya. Saya kira mereka terlalu berlebihan,” kata Edi usai pertandingan.
Dari kemenangan Sriwijaya FC U-21, 2 anak asuh Edi mengalami cidera, yakni Arif Gangsar yang cidera engkel dan langsung digantikan Dere Malman. Dan juga Zalnando yang mengalami hal yang sama.
“Zalnando diam-diam saja jika dia cidera, jadi kita mainkan. Dia sengaja tidak ngomong karena dia ingin main. Sebenarnya kita rugi juga dengan 2 pemain yang alami cidera, tapi disisi lain kita mampu raih 3 poin dipertandingan terberat ini,” ungkapnya.

Jelasnya, keputusan wasit sangat mutlak, tim harus bisa menerima keputusan yang diberikan hakim lapangan. “Kata mereka harus fairplay, dengan begitu, mereka sendiri tidak mendidik anak-anaknya untuk bermain fairplay,” ucapnya.
Ini kali kedua tim Persita dan Sriwijaya FC mengalami keributan di lapangan. Yang pertama, Sriwijaya FC ditahan imbang oleh tim tamu pada putaran pertama lalu yang juga mengalami kerusuhan, namun semua bisa diatasi, hanya saja keputusan wasit asal Medan, Fajar Ginting dinilai kontroversial.
Pelatih Persita Tangerang, Wiganda Saputra mengaku saat kejadian tersebut, ia sudah emosi. Ini dinilainya suatu pembinaan. Kalau memang maunya seperti ini, harus diterima oleh pemain Persita. “Tapi apakah ini sepak bola Indonesia kita?. Ya mau tidak mau kita harus menerima,” ungkapnya.
Ia juga mengaku sangat janggal dengan keputusan hakim lapangan untuk memberikan satu bola pinalty kepada anak asuh lawan. Menurutnya, bola sudah dibuang, pemain SFC U-21 jatuh.

 

“Saya kira perangkat pertandingan tidak fair. Kami pasti protes ke PT. Liga. Kami sudah ada rekamannya, kita ajukan banding. Ini seperti sudah direncanakan,” ujarnya.
Ke depan, Wiganda mengaku anak main terbuka saat menghadapi Persisko dan PSPS. Targetnya saat ini tinggal mencari runner up terbaik di ISL U-21 ini. “Tadi kita hanya bermain bertahan, untuk besok-besok kita main terbuka dan all out. Kita kejar target runner terbaik,” tutupnya.

TEKS: SADAM MAULANA.EDITOR:RINALDI SYAHRIL.FOTO:BAGUS KS

 

Wakodai Sumsel Siap Tempur




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *