Kontroversi Hitung Cepat

Oleh SARONO P SASMITO

Proses pungut hitung Pemilukada Gubernur dan Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) masih terus dilakukan. Pemungutan suara sudah kelar  pukul 13.00 tadi. Kemudian dilanjutkan  penghitungan  suara dan rekap demi rekap jumlah suara  itu secara berjenjang. Usai dari TPS maka perhitungan suara itu berlanjut dibawa ke  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan malam tadi terus bergerak.

Berdasarkan hasil hitung cepat sementara yang dilakukan Pusat Kajian dan kebijakan Pembangunan Strategis, pasangan calon gubernur-wakil gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin-Ishak Mekki (nomor urut 4) memperoleh suara 35,02 persen, disusul pasangan Herman Deru-Maphilinda (nomor urut 3) dengan 33,23 persen, kemudian Eddy Santana Putra-Wiwit Tatung (nomor urut 1) dengan 17,44 persen, dan Iskandar Hasan-Hafisz Tohir (nomor urut 2) dengan 14,31 persen.

Muncul fenomena  yang selalu terjadi seperti pada pemilukada-pemilukada sebelumnya. Pasangan Calon Gubernur Sumatera Selatan,  Herman Deru-Hj Maphilinda hanya percaya terhadap hasil akhir penghitungan suara pilkada secara manual oleh Komisi Pemilihan Umum   (KPU) meskipun beberapa lembaga survei menempatkan dia pada urutan kedua.

Quick Count atau hitung cepat memang merupakan  metode baru yang selalu muncul saat Pemilukada atau Pilpres. Oleh karena sifatnya hanya mengambil sampel sebagian maka tak semua calon mempercayai hasil hitungnya sebagai sesuatu hal yang final. Contoh kasus Deru mengemukakan,  Romi Herton-Harnojoyo kalah berdasarkan hasil perhitungan lembaga survei, malahan hingga selisih 2,0 hingga 4,0 persen pada perhitungan cepat. Tapi, nyatanya mereka yang menang dalam Pilkada Kota Palembang. Artinya masih ada kemungkinan kami menang.

Deru yang pada pagi hari menyalurkan hak suara di TPS 04 Desa Sidomulyo, Kecamatan Belitang, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, memilih langsung meluncur ke Palembang untuk berkumpul dengan keluarga dan tim pemenangannya. Ia mengemukakan, rasa optimitis itu cukup beralasan mengingat selisih dengan pesaing terdekat yakni pasangan Alex Noerdin-Ishak Mekki hanya berkisar 2,0 persen. Apalagi survei tersebut dilakukan di 350 TPS dari total TPS 16.579 yang tersebar di 15 kabupaten/kota.

Terkait dengan persaingan dalam perebutan suara dengan pasangan nomor urut 4 yakni Alex-Ishak, Deru menyatakan telah memprediksi sejak awal.
“Memang sejak awal saya memperkirakan akan berselisih tipis dengan Alex-Ishak. Yang jelas, berdasarkan penghitungan cepat ini diketahui bahwa Pilkada Sumsel akan berjalan satu putaran karena prosentase saya dan Alex di atas 30 persen,” katanya.

Menyikapi kenyataan ini kita mengharapkan semua kandidat yang bertarung dalam Pemilukada tersebut bersikap bijak. Jangan sampai karena hitung cepat yang sifatnya belum final dan dalam proses penetapan yang sesungguhnya tentang siapa yang kalah dan menang menjadi hak KPU. Terkalahkan oleh hitung cepat yang dari segi sampel TPS belumlah mencakup semuanya. Bukan hanya itu bagi yang dilambungkan oleh lembaga survai dan perolehannya menempati teratas jangan lantas menepuk dada dan langsung menobatkan diri sebagai pemenang. Kalau hal itu dilakukan jelas akan melukai perasaan lawan politiknya yang sama-sama berjuang untuk menjadi pemenang.

Sementara bagi tim pendukung juga jangan melakukan tindakan yang dapat menjadi saling provokasi satu sama lainnya. Mari kita tunggu hingga hitungan manual yang dilakukan KPU dengan pengawasan Panwaslu dan Bawaslu benar-benar sampai final. Dengan demikian siapapun yang terpilih tidak menimbulkan sanggahan keberatan dan lain sebagainya. Kalau kemudian memang ada sanggahan dan keberatan kita juga masih menunggu proses di Mahkamah Konstitusi (MK) kalau ada calon yang keberatan dan mengajukan gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU ) ke MK. Moga semua hal itu disadari dan kita dapat menghindarkan gejolak yang dapat merugikan semuanya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *