PILIH PEMIMPIN BERAKHLAQ

OLEH IMRON SUPRIYADI

Ketika Nabi Muhamamd SAW diutus ke muka bumi, salah satu tugasnya menyempurnakan akhlaq. Meminjam istilah budayawan Emha Ainun Nadjib, akhlaq adalah pakaian. Pakaian adalah identitas ke-hammbaan diri di mata. Jika tidak percaya, tanggalkan semua baju, celana hingga tak ada sehelai benang-pun yang menempel di tubuh Anda. Lalu Anda berdiri di tengah pasar, hinga semua orang melihat keberadaan Anda. Maka saat itulah, akan terlihat perbedaan mana manusia dan mana binatang.

Dengan demikian akhlaq menjadi ‘harga mati’ bagi sebuah eksistensi kemanusiaaan, hingga manusia itu akan tampak di mata Tuhan sebagai manusia yang menghambakan diri kepada-Nya atau malah sebaliknya sebagai manusia yang tersesat (binatang). Kesadaran apakah kita akan menjadi manusia setengah dewa, setengah malaikat atau manusia setengah binatang, juga menjadi pilihan. Sebab dalam Al-Quran, Allah telah menegaskan, jika manusia berbuat buruk maka posisinya bisa lebih sesat dari binatang.

Tentu, warga di negeri ini, di semua kelompok selalu berdoa pada Tuhan dan terus berharap akan lahirnya sosok pemimpin yang berakhlaq. Pemimpin bukan hanya dalam tata pemerintahan saja, tetapi setiap kita adalah pemimpin. Seorang isteri adalah pemimpin rumah tangga. Suami adalah pemimpin keluarganya. Pemimpin umat adalah ulama. Juga lurah, camat, bupati/wali kota atau gubernur bahkan presiden sekalipun pemimin bagi rakyatnya.

Pada tanggal 6 Juni  2013 (besok) menjadi penentu bagi Sumsel dan empat kabupaten lain di Sumsel yang juga melakukan pemilihan kepala daerah. Tetapi yang wajib dipegang adalah akhlaq sosok pemimpin.  Bagi Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumsel, Drs Umar Said, akhlaq seorang pemimpin harus memenuhi empat sifat Nabi Muhammad Saw, yaitu sidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (penyampai) dan fathanah (cerdas). Menurutnya, siddiq yang diartikan kejujuran harus muncul pada sosok pemimpin di semua level. Kejujuran inilah yang kemudian akan melahirkan sikap transparan, terbuka dalam segala hal kepada rakyatnya, dan tidak ada yang ditutupi.

Selanjutnya amanah (dapat dipercaya). Sosok pemimpin ketika diberi kepercayaan dari rakyat, berarti dia sudah menjadi mandataris rakyat. Artinya, seorang kepala daerah punya kewajiban menjalankan perintah rakyat, sebab ketika rakyat sudah memberikan amanahnya kepada pemimpin, dengan sendirinya pemimpin menjadi mandataris rakyatnya.

Kriteria akhlaq bagi sosok pemimpin lainnya adalah tabligh (penyampai). Seorang pemimpin harus bisa menjadi juru bicara bagi rakyatnya, untuk menyampaikan persoalan rakyat kepada pimpinan  diatasnya.

Hal keempat bagi sosok pemimpin yang berakhlaq adalah fathanah, yang berartri cerdas. Kecerdasan sosok pemimpin seharusnya bukan pepesan kosong, tetapi kecerdasan yang mewujud secara emosional, intelektual dan spiritual yang melahirkan kemuliaan akhlaq.

Selama ini, diakui atau tidak rusaknya akhlaq bangsa dan sejumlah pemimpin di negeri ini, karena kiblat Tuhan, dan tauhid-nya bukan Allah Swt, melainkan kapitalisme, materialisme dan liberalisme. Semua diukur dengan materi atau kebendaan, sehingga Tuhan pencita benda (mahluk) tertinggal dan terlupa.

Kuncinya, sosok pemimpin yang berakhlaq adalah bagaimana diri dan keluarganya harus memastikan apa yang dimakan harus bersumber dari harta halal, sehingga ketika memimpin rumah tanga, wilayahnya dan bangsa, juga akan memunculkan energy ‘halal’ dan kiblatnya ke pada Yang Maha Pencipta Mahluk, bukan kepada mahluk ciptaan-Nya.**




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *