Bahaya Kekuasaan

Oleh Dr Mahmudi Asyari

Dalam salah satu poin dari sepuluh poin nasehat al-Ghazali terhadap seorang penguasa Saljuq adalah bahwa kekuasaan menurutnya ibarat pisau bermata dua; di satu sisi bisa menjadi bekal yang sangat bernilai untuk kehidupan di akhirat kelak bagi pemegangnya jika ia sanggup menggunakan untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan bagi agama dan rakyat. Sebaliknya, hal itu juga bisa menjadi sebuah malapetakan yang besar bagi pemegangnya jika disalagunakan apalagi untuk kepentingan pribadinya serta tidak untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Terlebih jika dalam memegang kekuasaan itu, seorang penguasa justru melakukan perbuatan yang berlawanan dengan nilai-nilai agama.

Oleh sebab itu, seorang penguasa menurutnya, harus mengetahui betul bahaya dan manfaat sebuah kekuasaan. Sebab, jika hal itu tidak dicermati dengan sungguh-sungguh akan menjadi sebuah musibah dan penyesalan tiada akhir di akhirat kelak. Berkaitan dengan masalah itu, tidak ada pilihan lain menurut al-Ghazali selain mempergunakan kekuasaan itu untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi warganegara.

Ketika menekankan masalah itu, Hujjah al-Islam tersebut dalam kitabnya, al-Tibar mengambil sebuah cerita yang menurutnya berasal dari negeri Cina. Berdasarkan sebuah kisah seorang Kaisar Cina tidak pernah mendengar keluhan dan penderitaan rakyatnya. Suatu ketika tiba-tiba ia hilang pendengarannya. Ketika terkena masalah itu ia pun sadar bahwa hal itu adalah balasan atas kezalimannya dan tindakannya yang tidak pernah mendengar jeritan rakyatnya. Sadar oleh tindakannya yang tidak terpuji itu ia kemudian memberikan maklumat agar rakyat yang tertindas mengenakan pakaian tertentu atau tanda tertentu. Ketika sang Kaisar berkeliling dan melihat tanda atau pakaian itu ia pun berusahan menyelesaikan masalah yang diderita rakyatnya itu. Dan, atas upaya tobatnya itu ia menurut cerita yang didapat al-Ghazali bisa mendapatkan pendengarannya kembali.

Kisah itu, menurut al-Ghazali merupakan nasehat yang sangat berharga dan layak diambil sebagai i`tibar. Ia kemudian berkomentar, jika seorang penguasa muslim justru berbuat zhalim jauh lebih buruk derajatnya sebab mereka mempunyai pedoman berupa al-Quran dan Sunnah. Kaisar Cina yang tidak mempunyai keduanya saja mengetahui bahwa sebuah kekuasaan harus dipergunakan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Apalagi, seorang penguasa muslim yang mempunyai al-Quran dan Sunnah yang secara nyata kedua pedoman itu menegaskan bahwa perbuatan dzalim harus dihindari dan keadilan harus diwujudkan.

Nasehat Rasulullah Selaku orang beragama (Islam), kekuasaan sebagaimana ditegaskan Nabi adalah amanah. Tidak hanya amanat rakyat, tapi jauh lebih tinggi dari itu adalah amanah Allah dan Rasul-Nya. Dan, kita sudah tahu orang yang tidak menjalankan amanah dalam Islam disebut khianat yang sudah tentu tidak hanya kepada pemilih, tapi juga kepada Allah dan Rasulnya. Oleh sebab itu, cermatilah arahan Nabi Muhammad saw dan sikap sahabat berkaitan dengan masalah itu.

Nabi Muhammad bernah memberikan nasehat kepada Abu Dzarr RA berkaitan dengan masalah imarah (kekuasaan atau pemerintahan). Beliau mengatakan kepadanya: Sesungguhnya (`imarah) merupakan amanat dan ia akan menjadi sumber kesedihan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambil amanat karena ia berhak dan menyampaikan kepada yang berhak pula (HR Muslim). Menurut suatu riwayat, hadis itu keluar atas dasar permintaan Abu Dzarr agar beliau menunjuknya sebagai pejabat di suatu tempat. Namun anggapan itu ditolak oleh sebagian kalangan, karena menurut mereka mustahil Abu Dzarr, seorang sahabat yang dikenal alim untuk meminta jabatan kepada Rasulullah. Terlepas dari masalah itu, yang jelas masalah kekuasaan merupakan amanat Allah, Rasul-Nya, dan umat yang harus dijalankan dengan baik oleh orang yang tepat berdasarkan penilaian bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk menjalankannya.

Masih dalam soal amanat, dalam kesempatan lain Nabi Muhammad saw juga bersabda, Jika amanat disalahgunakan, maka tunggulah saat kehancuran! Sahabat bertanya, Apa bentuk penyelewengannya Ya Rasullullah? Beliau menjawab, Jika suatu urusan diserahkan kepada yang tidak berkompeten (tidak ahli dibidangnya), maka tunggulah saat kehancurannya (HR Bukhari).
Perihal kekuasaan pemerintahan sebagai amanat telah ditunjukkan oleh sahabat Abu Bakar dan Umar ketika mereka menerima predikat sebagai penerus Nabi (khalifah). Bahkan Umar secara elegan telah menunjukkan lapang dadanya ketika ia menyampaikan pidata saat dibaiat menerima peringatan dari yang hadir bahwa apabila tidak berjalan lurus akan diluruskan dengan pedanynya begitu juga ketika ia dituduh mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Khalifah kedua itu, ketika mendengar hal itu justru bersyukur, karena masih ada orang yang mau memberikan peringatan (nasehat) kepadanya.

Di samping itu, sahabat Nabi telah memberikan contoh bahwa dalam rangka menjalankan amanat, mereka tidak mau mengangkat saudara atau orang-orang yang masih mempunyai kedekatan dengan mereka, karena mereka sadar bahwa jika itu dilakukan berarti telah mengkhianati amanat Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagaimana ditegaskan Nabi dalam sabdanya, Barangsiapa yang memberikan kepercayaan kepada seseorang perihal urusan orang Islam sedangkan ia masih bisa mendapatkan orang yang lebih baik darinya, sesungguhnya telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya,dan orang-orang beriman. Barangsiapa memperkerjakan seseorang karena unsur kedekatan (kerabat) sedangkan ia bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman (HR Al-Hakim).

Mendengar hadis itu, Umar bin Khattab kemudian menegaskan tekadnya untuk menganggkat orang-orang yang tidak ada hubungan kekerabatan dan hubungan like dan dislike dengannya. Ia kemudian berkata, Barangsiapa memberikan kepercayaan urusan orang Islam kepada seseorang didasarkan rasa suka atau hubungan kekerabatan, sesungguhnya telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

Penguasa muslim yang masih berikrar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya semestinya ketika memerintah berpedoman kepada apa yang Nabi gariskan dan apa yang telah dicontohkan oleh sahat-sahabatnya dalam rangka mengemban amanat dan menyampaikan kepada yang berhak. Bukankah Allah telah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan jangan mengkhianati amanat yang diberikan kepada kamu sedangkan kalian mengetahui (Alanfal:27). Wa Allah a`lam bi al-shawab.

Berkaitan dengan hal itu, tepatlah kiranya, jika al-Ghazali protes kepada penguasa Mamluk ketika itu yang cenderung zhalim dan despot padahal mereka mempunyai al-Quran dan Sunnah. Sementara seperti seperti Kaisar Cina yang tidak mempunyai keduanya bisa berbuat adil.




One thought on “Bahaya Kekuasaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *