TRI in ONE TENTANG GURU

Oleh  : H. Muhammad Syubli. LN.

Guru SMP Negeri 19 Palembang

Hari-hari terakhir bulan Mei hingga awal Juni/Juli 2013 ini, pasti banyak orang tua murid yang sudah disibukkan kesana kemari untuk memasukkan anaknya sekolah. Apakah anaknya mau masuk SD, SMP ataupun SMA, karena begitulah kebiasaannya di negeri kita. Yang mereka khawatirkan bukan soal biaya, karena kita tahu dari Sabang hingga Merauke semua Sekolah sudah “Gratis” bukan Cuma di Sumsel. Tapi apakah anaknya dapat masuk Sekolah itu dengan tidak perlu menghadapi problem “Jual beli bangku”.

Tulisan ini tidak Relevansinya dengan situasi sekitar kesibukan orang tua itu, tetapi karena soal ini ada hubungannya dengan guru, maka dikesempatan ini saya akan bicara soal guru untuk menambah wawasan pembaca. Saya ingin mengajak kita mengupas tiga typologi guru yang diistilahkan dengan TRI KO (tiga ko). Ketiga KO dimaksud adalah tiga “simbol” atau typologi guru yang sudah ada sejak manusia mengenal peradaban. Dan  ketiganya bukanlah kriteria yang baku, tidak juga ada kitab undang-undangnya, karena ini hanya fenomena atau sekedar inovasi belaka.

 Tiga KO itu adalah : 1. GURU BERKO,  2. GURU TẺKO, 3. GURU TOKO ini ada pada seorang guru. Sebelum menguraikan ketiga typologi itu, kita kupas dulu  kata “Guru” dari segi Etimologis ataupun Terminologis. Selama ini sering diungkapkan kata Guru berasal dari bahasa Jawa  terdiri dari dua suku kata GU dan RU yang diartikan : orang yang patut DIGUGU dan DITIRU.

Digugu maksudnya dipercaya, dijadikan pedoman, ucapannya, ilmu yang diberikannya, tindak tanduknya dan lain-lain. Sedangkan ditiru semua kita maklum artinya, dicontoh, diteladani hal-hal yang baik dari sang guru, baik sikap dan tingkah lakunya, cara bergaulnya, caranya berpakaian, cara bicaranya, bahkan cara jalan dan cara makannyapun diperhatikan oleh muridnya.

            Guru yang pantas digugu dan ditiru tentu saja guru yang baik, berkualitas, supel dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi muridnya, atau mengajarkan yang baik-baik dengan ikhlas. Apabila dilandasi dengan niat yang ikhlas maka akan mudah diterima oleh anak didik, karena mereka juga menerima dengan ikhlas, maka guru seperti itu akan ditungGU serta di buRU oleh siswa yang haus akan ilmu.

Ditunggu kehadirannya meskipun terlambat, mereka akan kecewa bila sang guru tidak hadir sama sekali, dan ketika dia hadir, tampil mengajar, anak didikpun sabar menunggu sampai habisnya waktu. Terkadang orang mengejar-ngejar (memburu) guru untuk dimintai penerangan ilmu darinya, bahkan untuk tujuan itu orang sanggup membayar guru demi mendapatkan ilmu darinya, contohnya guru-guru MIPA, Bahasa Asing, guru SILAT dan guru Olah Raga. Tetapi tidak mustahil juga kalau ada guru yang ditunggu dan diburu karena hutang dan kreditannya yang belum lunas.

 Sebaliknya jika guru mengajar tanpa niat yang ikhlas karena semata-mata untuk mencari (memburu-buru) keuntungan materi, ditambah lagi kualitas sang guru sendiri tidak Qualifield dan tidak memiliki kompetensi, tidak memiliki jiwa mendidik, tidak menguasai materi yang diajarkan dan sebagainya, maka guru seperti itu istilah Jawanya: GU-RU akan DIGEGUYU (ditertawakan) dan atau DITINGGAL TURU (ditinggal tidur) oleh anak didiknya.

Mungkin ada guru yang sengaja membuat anak didiknya tertawa untuk menyegarkan suasana agar tidak kaku, agar siswa bersemangat, tidak mengantuk apalagi tidur. Kita bisa bayangkan jika ada guru yang mengajar tapi ditertawakan, jadi bahan tertawaan murid.

Mungkin karena sikapnya, ucapannya, kebodohannya, tidak memahami ilmu mendidik, tidak mengerti ilmu jiwa dan sebagainya, sehingga bila dia tampil akan diẻjẻk/ ditertawakan oleh anak didiknya atau bahkan ketika dia mengajar semua anak didiknya tidur, minimal tidak memperhatikan apa yang dijelaskan guru.

            Nah, mencermati pandangan dari segi Etimologis itu, tulisan ini ingin memberikan gambaran kepada kita semua (khususnya para guru), termasuk yang mana ? dan  anak didik juga dapat mengetahui, mereka diajar oleh guru yang bertype apa.

1. GURU BERKO; Berko adalah lampu senter yang pakai Batery, atau yang ada didepan Sepeda/ kereta angin, ia dipakai hanya pada malam hari (temporer, sewaktu-waktu) untuk menerangi jalan sipengendara sepeda atau siapa saja. Berko dapat menyorotkan cahaya karena ada Batery atau Dynamo yang diputar oleh roda sepeda, karena itulah sumber energinya, pelan putaran rodanya, redup cahaya yang dipancarkannya, tapi makin kencang lari sepeda makin terang cahayanya

Jika kita umpamakan dengan guru, mungkin ada guru yang seperti “berko” dia menerangi jalan yang akan ditempuh oleh siapa saja, jika ada yang mendorong dia akan bersemangat, apalagi ada “energi” yang lebih besar, maka semangatnyapun bertambah. Mungkin karena “energi” yang diberikan kepada guru selama ini tidak seimbang maka tidak mengherankan jika ada guru yang “nyambi”, misalnya jadi tukang ojek atau tukang kredit dan sebafainya, walaupun itu  tidak ideal.

2. GURU TKO;  Teko adalah wadah air, atau nama lainnya Ceret, diisi air putih dia akan keluarkan air putih, diisi air kopi, teh, susu atau air Es, dia akan keluarkan sesuai dengan apa isinya. Teko baru bisa mengeluarkan isinya bila diangkat, didekatkan gelas baru gelas dapat diisi. Sedikit atau banyak yang dikeluarkan tergantung dengan berapa besar teko dan berapa banyak isinya.

Bila kita umpamakan terhadap guru, mungkin ada guru yang bertype “Teko” ini, yang senantiasa memberikan ilmunya kepada siapa yang memerlukan, memberi minum siapa yang haus, tetapi itu baru bisa dia lakukan jika ada yang “mengangkatnya”, ada yang menopangnya, dengan kata lain ada yang mempertanggung jawabkannya, atau dia berfungsi setelah diisi, isi (ilmu) nyapun terbatas. Mungkin juga ada guru yang butuh sanjungan, “diangkat” dipuji-puji baru dia mau keluarkan ilmunya, jika tidak ada yang mengangkat dia tetap akan diam saja, itulah sifat “Teko”.

Tetapi jika diambil dari arti lain “Teko” yang dalam bahasa Jawa artinya “datang” maka dapat diartikan guru datang atau guru mendatangi murid, mungkin dapat kita contohkan seperti guru yang memberikan Privat Les datang atau diminta datang oleh muridnya. Dapat juga di artikan “Sumur mendatangi/mencari ember, bukan ember mencari sumur. artinya siapa saja yang perlu dengan ilmu dia harus mendatanginya.

3. GURU TOKO ;  Toko adalah tempat orang berdagang, biasanya bermacam-macam barang dagangan ada dalam toko, bisa juga diartikan “toko” ini sebagai “Gudang” tempat menyimpan segala macam barang, siapapun dan butuh apapun maka dia harus datang ke toko, memilih apa yang ingin dia beli. Toko tidak bisa bergerak, dia hanya diam ditempat.

Bila kita umpamakan dengan guru, guru ini adalah orang yang banyak ilmu, atau “gudang ilmu” (sesuai dengan banyaknya isi toko), dia hanya diam ditempat, oranglah yang berdatangan kepadanya untuk mendapatkan ilmu. Kalau kita ibaratkan lagi type guru “Toko” ini seperti sumur, maka timba atau ember yang datang untuk mengambil air, dan tidak mungkin sumur mendatangi timba/ember. Bisakah kita umpamakan “tokoh” ini seperti seorang “Pertapa”, yang hanya diam ditempatnya bersemedi, menyendiri ? Lain lagi artinya jika kita tambah huruf “H” di belakang toko menjadi “Tokoh”, artinya sosok guru memang adalah seorang yang pantas di ”tokoh” kan.

Perlu diingat oleh siapapun, tidak ada bekas atau mantan guru, sebab yang namanya bekas adalah benda atau sesuatu yang pernah dipakai, misalnya bekas sepatu, bekas rumah, bekas isteri dan sebagainya. Begitu juga guru yang berilmu, tidak akan mengatakan sesorang itu “bekas muridku”, biasanya dia akan berkata, “dia dulu adalah murid saya di sekolah anu”.

Apalagi jika si murid dimaksud kebetulan menjadi orang ternama, seperti pejabat, tentara, polisi, menteri, artis dan lainnya, tapi mungkin sang guru akan malu mengakui kalau kebetulan sang murid adalah preman, bajingan, perampok, koruptor serta pelacur termasuk politisi busuk atau golongan penjahat lainnya.

Sebab memang tidak ada guru yang mengajari muridnya mencuri, merampok dan perbuatan jelek lainnya. Oleh karena itu sudah sewajarnya orang-orang yang pernah diajar oleh seseorang guru membalas jasa gurunya, walaupun selama ini sang guru telah ‘kenyang’ dinina bobokkan dengan predikat “Pahlawan tanpa tanda jasa”, namun sampai kapanpun membalas jasa guru bagi orang yang berilmu dan tahu membalas budi baik akan tetap dilakukan entah dengan cara apapun.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *